Monday, May 18, 2015

Cerpen

JODHA SAYANG PADAKU

Aku sangat membencinya, aku tidak pernah menyukainya sedikit pun.
Karena semenjak dia lahir, dia ambil semuanya dariku. Papa,mama, kakek, dan nenek. Seluruh perhatian semua orang terpusat pada Jodha, ya Jodha adalah adikku, umurnya beda 3 tahun denganku. Sekarang umurku 19tahun dan Jodha 16 tahun.
Apa karena dia anak terakhir, jadi dia selalu dimanja oleh semua orang?  Setiap perkataannya selalu didengarkan oleh papa, mama, kakek, dan nenek. Sedangkan aku, baru saja mulai bicara mereka tidak mau mendengarkannya, banyak sekali alasan mereka untuk tidak mendengarkanaku.
Jodha selalu dimanjakan oleh papa dan mama, semua yang menjadi keinginan Jodha selalu dipenuhi, ya meskipun dia tidak terlalu banyak meminta, tapi setidaknya papa dan mama tidak pernah menolak untuk memberikan apa yang Jodha mau.
          Oh sial, pagi ini aku bangun terlalu siang. Aku ada ulangan jam 8, bagaimana aku bisa ke kampus dengan cepat. Yang lebih membuatku kesal adalah papa dan Jodha sudah berangkat lebih awal, tanpa mereka mengajakku atau membangunkan aku. Aku sungguh muak dengan hari ini. Dikampus aku memang terkenal sebagai orang yang santai, ramah, baik, dan pintar. Tapi ketika dirumah, semua itu berubah. Aku dikenal sebagai anak yang pendiam, selalu mengurung diri dikamar, dan selalu marah-marah. Tapi terserah apa tanggapan mereka tentang diriku.
Hari ini sungguh melelahkan dan membuatku stres, aku coba menenagkan diri dikamar dengan menonton film di laptopku. Tiba-tiba Jodha datang ke kamarku, entah apa yang ingin dia lakukan.
“Selamat sore ka, lagi apa nih?”, tanya Jodha sambil menghampiriku.
“Kamu lihatnya aku lagi apa? Ada apa kamu kesini?”, tanyaku sinis.
“Aku cuma mau berduaan sama kakak, boleh kan? Malem ini, aku boleh enggak tidur sama kakak?”
“Oh, gak boleh. Kamu kan punya kamar sendiri, tidur aja dikamar kamu. Kecuali kalau kamar kamu ada masalah baru kamu b oleh tidur disini”
“Iya kak, kamarku ada masalah. Kamarku bocor, besok papa mau panggil tukang untuk benerin atapnya. Jadi malem ini bolehkan aku tidur sama kakak?”
“Ya ya ya... Terserah”
“Horee, aku tidur sama kakak.. Yuuhuuu”, teriaknya gembira.
Semalaman aku akan tidur bersamanya, oh Tuhan semoga penderitaanku ini segera berakhir.
Dengan senangnya Jodha masuk ke kamarku dengan membawa tas sekolahnya, laptop dan boneka kesayangannya. Jujur saja, aku sangat tidak suka dengan boneka nya Jodha.
Selama dia berada dikamarku, dia sibuk dengan PR nya. Ya itu lebih baik, daripada semalaman dia menggangguku. Tepat jam 8 kami pun turun kebawah untuk makan malam.
Sekarang aku terpaksa harus berbicara dengan Jodha, karena aku disuruh nenek untuk memanggilnya kebawah untuk makan malam.
Saat makan malam sudah selesai, aku mendengar pembicaraan antara papa dan Jodha. Aku jadi penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
“Kamu sekarang tidur dikamar kakakmu? Kenapa?”, tanya papa.
“Aku bilang ke kakak kalu kamarku bocor, jadi aku menumpang dikamarnya untuk sementara. Aku bilang kalau besok papa mau panggilin tukang buat benerin atapnya”
“Emang kamar kamu bocor?”, tanya papa, sepertinya papa  belum tau.
“Enggak sih, itu cuma alasan biar aku bisa tidur berdua sama kakak. Papa tau kan selama ini aku gak pernah tidur sekamar sama kakak?”, kata Jodha.
“Kamu ini bisa aja”.
Ternyata dia bohong, tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah terlanjur memindahkan barang-barang keperluan sekolahnya ke kamarku. Untuk malam ini aku bisa memakluminya, tapi lihat saja nanti jika dia membohongiku lagi.
          Jodha membangunkanku pagi-pagi sekali, tapi biarlah jika dia tidak membangunkan aku pasti aku akan terlamabat lagi seperti kemarin, dan hampir saja tidak boleh ikut ujian.
Setelah mandi dan sarapan aku, papa, dan Jodha berangkat. Jodha masih kelas 2 SMA, dan papa bekerja sebagai dosen disalah satu Universitas.
Dikampus aku mendapat beasiswa untuk 1 tahun, aku mendapat beasiswa karena aku cukup berprestasi dikampus. Setidaknya aku bisa meringankan bebean orang tuaku. Aku mengambil jurusan Multimedia, dan sekarang aku sudah semester 3.
          Saat aku pulang dari kampus, rumah sepi sekali. Tidak ada orang dirumah. Aku coba menelfon mama.
“Mama, kenapa dirumah enggak ada orang. Semuanya pada kemana?”
“Kami lagi ada dirumah sakit”, kata mama sambil menangis.
Aku langsung menyusul mama kerumah sakit.
          Ternyata Jodha yang sakit. Kata mama, Jodha mengalami kecelakaan, dia jatuh dari tangga disekolahnya. Dan kata dokter, kaki Jodha tidak bisa digerakkan Jodha mengalami kelumpuhan, dia tidak bisa berjalan. Jodha harus melakukan kemoteraphy supaya dia bisa berjalan lagi.
Sebenarnya hatiku menangis, tapi aku tidak membiarkan mataku untuk menitihkan air mata.Aku tetap bersikap seolah tidak peduli pada Jodha.
Tapi aku sangat kagum pada Jodha, dia tidak frustasi seperti orang-orang pada umumnya. Dia menerima semua ini dengan ikhlas. Dan saat aku ingin meninggalkan Jodha dari ruangannya, Jodha memanggilku.
“Kakak, jangan pulang dulu. Kakak mau kan jagain aku. Hari ini aja, besok kan kakak libur kuliahnya”, rayu nya.
“Maaf, kakak lagi banyak tugas. Lagian kan ada mama sama nenek yang jagain kamu disini”
“Tapi kak, aku mau kakak yang jagain aku. Kakak sayang kan sama aku?”
“Enggak, aku gak pernah sayang sama kamu. Malah aku gak pernah suka sama kamu. Soalnya kamu udah ngambil semuanya dari aku, kamu ambil perhatian mama, papa, kakek sama nenek. Kamu juga yang udah ngerebut kasih sayang mereka yang seharusnya untuk aku. Apa kamu masih belum cukup puas? Dan sekarang kamu suruh aku buat jagain kamu disini? Paling-paling kamu mau pamerin kasih sayang mama sama nenek ke kamu. Iya kan?”, aku bicara dengan nada tinggi sampai-sampai mama dan nenek yang sedang di depan ruangan mendengarnya dan masuk ke ruangan Jodha.
“Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?”, tanya nenek padaku.
“Enggak ada apa-apa ko nek, aku harus buru-buru pulang. Aku lagi banyak tugas”
Aku langsung meninggalkan ruangan, dan Jodha yang masih menangis karena perkataanku tadi.
Aku tidak peduli. Memang benar itu kenyataan nya, dan semoga setelah kejadian itu, Jodha sadar kalau dia sudah mengambil semua nya dariku.
          Sudah 5 hari Jodha dirumah sakit, aku dengar dia sudah mulai belajar berjalan sedikit demi sedikit. Bagus lah.
Dan dokter juga sudah memperbolehkan Jodha pulang. Saat Jodha, mama, dan papa sudah pulang dari rumah sakit, mama memintaku untuk menemani Jodha yang berada dikursi roda itu ke kamarnya. Dan tentu saja aku langsung menolaknya, meskipun sebenarnya aku ingin sekali menemani Jodha dan meminta maaf padanya. Tapi seharusnya dia yang meminta maaf padaku, karena dia sudah mengambil semua nya dariku.
Aku langsung masuk ke kamar, dan mengunci pintu. Karena aku tidak mau Jodha masuk ke kamarku. Saat aku dikamar, aku mendengar suara teriakan Jodha. Aku langsung berlari menuju kamar Jodha, tapi Jodha tidak ada dikamarnya. Dan ketika aku menuruni tangga, aku melihat Jodha tergeletak dilantai bawah. Sepertinya Jodha terjatuh. Saat papa memeriksa kondisi Jodha, ternyata Jodha sudah tidak bernafas lagi dan sudah tidak ada denyut nadinya, Jodha sudah meninggal. Aku sangat sedih sekali, aku merasa bersalah padanya. Setelah 7 hari Jodha meninggal, aku memutuskan untuk pindah ke kamar Jodha, dan aku menemukan sebuah buku. Tepat sekali halaman yang aku buka adalah halaman terakhir Jodha menulis di buku itu.




Dan sekarang aku tau betapa Jodha menyayangiku, aku sangat menyesal telah menyia-nyiakan adik sebaik Jodha, yang mungkin orang lain tidak punya.
Aku hanya berkata dalam hati “maafin kakak, kakak gak bisa jadi kakak yang baik untuk kamu, Jodha”.


JUWTA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

Tuesday, May 12, 2015

PUISI---> RINDU KU



Dalam keheningan malam
Dibawah sinar bulan
Dibawah taburan bintang yang menjadi hiasan malam
Aku sendiri, tertegun
Membayangkan dirimu berada disampingku
Ku titipkan salam rindu ini pada hembusan angin malam
Dan berharap kau tau tentang perasaanku ini

Aku dan Teman-temaN



 
Aku menunggu keempat temanku di depan kelas. Baru saja aku ingin masuk ke kelas, tapi mereka sudah muncul. Ya.. Arjun, Sameer, Aishwarya, dan Renuka adalah teman-temanku.
            “Kalian ini dari mana saja?”
            “Maaf, tadi dijalan macet. Jadi kami terlambat” alasan Arjun
            “Baiklah, ayo masuk” ajakku
Kami semua masuk ke kelas dan menempati bangku yang masih kosong.
Pelajaran pagi ini dimulai dengan Matematika, sebuah mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar pelajar, termasuk aku. Ditambah dengan dosen yang galak, itu membuat selera belajarku hilang. Dan akhirnya, jam untuk pelajaran yang menakutkan itu pun berakhir. Diganti dengan mata pelajaran ke dua, yaitu bahasa Inggris. Mata pelajaran yang sangat aku sukai,begitu pun dengan dosennya. Dosennya baik, ramah, cantik, dan juga manis.
Tidak seperti Matematika. Mata pelajaran bahasa Inggris ini mampu menyita seluruh perhatianku, mataku terpusat pada power point yang ditampilkan di white board oleh Mrs.Lara Singh. Beliau sedang mempresentasikan tentang Cara Berkomunikasi dalam Dunia Bisnis. Tak terasa waktu istirahat pun tiba, aku dan teman-temanku menuju ke kantin.
Dan setelah istirahat, ada satu mata pelajaran lagi yang harus kami ikuti.
Aku dan teman-temanku segera kembali ke kelas, setelah istirahat selesai. Kami mulai mengikuti pelajaran yang lain. Dan setelah semua selesai, aku memutuskan untuk pulang kerumah lebih awal.
            “Aku pulang dulu ya”
            “Kenapa? Apa kau tidak mau ikut dengan kami?” tanya Renuka
            “Tidak, aku ingin langsung istirahat”
            “Baiklah.”
                                                            ***
Aku merebahkan tubuhku dikasur dan mulai memejamkan mataku.
Perlahan aku merasa beban dikepalaku mulai berkurang, ya setidaknya semua tugas yang diberikan oleh dosen sudah aku selesaikan.
Aku terbangun dari kasurku ketika mendengar ada yang memanggil namaku,
            “Mega, Mega..” ya, itu pasti ibu.
            “Iya bu, sebentar”
Aku langsung keluar kamar dan menghampiri ibu.
            “Mega, ayo kita makan siang bersama”
            “Iya bu”
Dirumah, aku tinggal bersama ayah, ibu dan kakakku. Aku anak bungsu dikeluarga ini. Kakakku sudah berkerja di salah satu perguruan tinggi di Jaipur, kakakku seorang dosen bahasa Inggris. Usia kakakku 3 tahun lebih tua dariku.
Ayahku seorang akuntan disalah satu perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan. Disini aku berkuliah di Harem University
Kami tinggal di India sudah 2 tahun, karena ayah di pindah tugas kan ke Jaipur. Aku juga punya saudara yang tinggal disni, adik dari ayahku menikah dengan wanita India dan sampai sekarang beliau menetap di kota ini.
Kebetulan hari ini ayah kerja setengah hari. Jadi, kami bisa makan siang bersama.
Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang disibukan dengan berbagai kagiatan dirumah.
Ya, meskipun begitu aku sangat bersyukur sekali memiliki keluarga yang sangat menyayangiku.
Setelah makan siang, aku masuk ke kamarku dan melihat ponselku. Ternyata ada pesan dari Arjun, dia hanya menanyakan pendapatku tentang buku yang kemarin kami beli. Tapi sayangnya aku belum membacanya, jadi aku tidak bisa memberi pendapat apa pun tentang buku itu.
Arjun adalah salah satu teman dekatku. Aku mengenalnya saat kami masuk kuliah, dia anak yang baik dan juga pintar. Aku dan Arjun selalu berlomba dalam setiap mata pelajaran dikampus kecuali, matematika.
Beberapa kali aku mengajak Arjun ke rumah, karena banyak tugas kelompok yang harus kami kerjakan. Tidak hanya Arjun, tapi Sameer, Aishwarya, dan Renuka juga pernah kerumah.
Kami selalu bersama, dan kami adalah sahabat yang paling kompak (menurutku).
Aku bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka yang baik dan tidak membeda-bedakan agama. Aku, Arjun, dan Renuka beragama Islam. Sedangkan Sameer dan Aishwarya beragama Hindu. Tapi perbedaan itu lah yang membuat kami semakin kompak dan yakin kalau teman tidak melihat perbedaan, apa pun itu.
Pagi yang cerah, burung-burung berkicau riang di pepohonan yang rindang. Cuaca yang sangat mendukung untukku dan teman-temanku berpergian. Hari ini kami berencana untuk jalan-jalan di sekitar kota Jaipur. Biasanya kami hanya pergi ke pameran buku dan pameran kesenian lainnya.
Tapi kali ini Aishwarya mengusulkan untuk jalan-jalan di sekitar kota Jaipur. Meskipun sudah 2 tahun aku tinggal di Pink City ini, tapi aku belum tau benar tentang tempat-tempat rekreasi di sini.
“Hai, udah siapkan” tanya Aish yang berada didalam mobil.
“Iya, tapi tunggu sebentar. Aku ingin berpamitan dulu dengan ibu”
“Oke”
                                                ***
Kami semua langsung berangkat menuju Ameer fort. Ameer fort adalah sebuah benteng yang dibangun diatas gunung oleh Raja Man Singh 1. Bangunan ini sangat dikenal karena gaya arsitekturnya yang memadukan gaya Hindu dan gaya Rajput. Bangunan ini dibagi atas empat area utama, setiap area memiliki pintu masuk dan halamannya masing-masing. Pintu masuknya adalah melalui Suraj Pole (Sun Gate) yang membawa kami menuju Jaleb Chowk yang merupakan halaman dari area pertama. Ameer fort sangat ramai dikunjungi para wisatawan. Setidaknya ada 3000 orang yang berkunjung setiap harinya. Tidak hanya menikmati kemegahan Ameer fort, kami pun mengambil gambar bersama.
“Oh iya, foto dulu yuk”
“Oke” seru teman-teman.
Mentari beranjak tinggi, menandakan hari sudah siang.
Setelah puas berfoto-foto, kami semua memutuskan untuk makan siang di luar. Renuka menyarankan restoran di sekitar Ameer fort menjadi tempat makan siang kami.
Kami memesan Bhatura, makanan yang terbuat dari campuran tepung atta, tepung terigu, dan yogurt, dipasaran biasanya memakai baking soda supaya mengembang saat di goreng. Di rumah, aku tidak pernah membuatnya karena selain tidak tahu, juga agak susah membuatnya.
            Setelah selesai makan siang, kami kembali melanjutkan traveling kami ke tempat wisata yang lain. Tapi, di perjalanan kami melihat pameran kesenian, sepertinya menarik.
            “Kalian tertarik untuk kesana?” tanyaku dengan penuh harapan
            “Hmm, sedikit” jawab Sameer
            “Aku tertarik untuk kesana” jawab Aishwarya
            “Oke, kalau begitu kita kesana ya” kesepakatan Arjun yang menyetir mobil.
            “Lest Go...” seru Renuka.
Kami menghampiri kerumunan itu, disini sangat ramai. Banyak sekali yang dipamerkan disini. Ada baju tradisional dari Ameer, ada perhiasan yang biasa digunakan oleh ratu di Ameer, dan makanan-makanan khas kerajaan Ameer.
Aku hanya membeli baju saja, karena aku sangat menyukai baju-baju ala kerajaan. Lumayan, untuk menambah koleksi bajuku. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, tinggal menunggu teman-teman yang sedang berbelanja. Aku menunggu mereka di dalam mobil. Dan setelah setengah jam mereka berbelanja ria, akhirnya mereka selesai juga.
            “Renuka, banyak sekali yang kau beli?”
            “Iya, ini juga untuk adikku”
            “Oh, oke. Ayo kita pulang”
Hari ini sangat menyenangkan, meskipun hanya 2 tempat yang kami kunjungi, tapi semua tempatnya menarik.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku mengunjungi Ameer fort.
***

Wednesday, February 18, 2015

Cerpen-Dua Bendera

DUA BENDERA

Pemandangan di pagi hari sangat indah ketika aku membuka jendela kamarku.
Mataku langsung tertuju pada sebuah candi yang bediri megah tepat didepanku. Candi yang banyak dikunjungi wisatawan, candi yang terkenal dengan legenda Ramayana nya. Tentu saja kalian sudah tau kan nama candinya,  ya Candi Prambanan.
Setiap hari minggu pagi aku selalu menyempatkan untuk olahraga lari disekitar Candi Prambanan, tentu saja aku tidak sendiri. Aku bersama dengan adikku Nandita Rai. Kami berdua selalu menghabiskan waktu berdua setiap libur sekolah, Nandita masih kelas 3 SMP dan sebentar lagi akan menghadapi ujian. Aku juga sama, aku kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku juga akan menghadapi ujian.
Aku berharap aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, begitu juga dengan Nandita, semoga dia lulus dengan nilai yang memuaskan dan bisa masuk ke SMA yang dia inginkan.
          Waktu perpisahan pun telah tiba, aku dan Nandita menghadiri acara perpisahan disekolah kami masing-masing. Aku dan Nandita pun lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan tentu saja kedua orang tua kami pun bangga pada kami, dan memberikan kami hadiah.
Aku tidak menyangka papa dan mama memberi kami berdua hadiah liburan ke  negara asalnya papa. Kami semua akan liburan ke India. Ini sudah tradisi, setiap satu tahun sekali kami sekeluarga pergi ke India. Disana ada kakek dan nenek dari papa, paman Vinay, bibi Rada, paman Pandu, bibi Neha, si kembar Nakula dan Sadewa, juga saudara perempuanku Kavita.
Aku sangat merindukan mereka, sudah satu tahun lebih aku tidak bertemu mereka. Meskipun aku tidak bertemu mereka, tapi aku sering menelefon mereka, bahkan kami lebih sering mengirim email pada Nakula, Sadewa, dan Kavita.
Dan rasanya aku tidak sabar untuk segera menemui mereka. Tapi aku baru bisa berangkat  4 hari lagi, karena mama harus mendaftarkan Nandita ke SMA.
          Sudah waktunya aku berangkat, aku tidak membawa baju terlalu banyak, karena baju-bajuku masih ada disana. Aku juga tidak lupa membawa kamera kesayanganku, karena aku akan memotret setiap moment bersama mereka. Setelah setengah jam kami menunggu di bandara, akhirnya pesawat yang kami tumpangi pun datang dan akan segera terbang ke India.
Oh sungguh tidak sabar untukku sampai ke India. Keluargaku tinggal di New Delhi, tepatnya di Jaipur. Meskipun hanya sebuah kota kecil, tapi penduduk disana sangatlah ramah. Aku juga punya teman disana, nama temanku Pooja dan Arjun. Kami bertiga berteman sejak kecil, mereka juga seumuran denganku.
Dan setelah satu hari perjalanan, akhirnya aku sampai juga di Bandara Indira Ghandi. Ternyata paman Pandu sudah siap untuk menjemput kami.
“Salam paman. Wah paman terlihat tampan sekali. Dimana bibi Neha (istri paman Pandu)?”
“Bibi mu tidak ikut, dia sedang sibuk mempersiapkan acara untuk menyambut kalian”
“Pandu, tidak usah repot-repot”, kata papa sambil menepuk pundak paman Pandu.
“Kakak, ini kan sudah tradisi. Ayo kita harus segera sampai kerumah. Karena kita akan melakukan sembahyang bersama”, kata paman Pandu sambil menggandeng papa.
Oh tidak, lagi-lagi sembahyang bersama. Aku malas sekali melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tradisi dikeluargaku.
Saat kami datang kerumah, kami disambut dengan iringan musik dan nyanyian dengan suara yang merdu dari para nenek. Aku sangat merindukan hal seperti ini. Aku dan Nandita segera mengganti baju untuk melakukan sembahyang bersama.
Dan akhirnya Nakula, Sadewa, dan Kavita pun juga ikut sembahyang bersama kami. Dan setelah sembahyang bersama, kami berlima kehalaman belakang tempat kami biasa berkumpul.
Tentu saja kami berlima mengobrol-ngobrol ria. Aku, Nakula, dan Sadewa umur kami sama. Dan mereka juga sudah lulus SMA. Kami bertiga membicarakan tentang perguruan tinggi pilihan kami. Kami berbicara bahasa Hindi, tapi tenang saja. Aku akan menuliskannya dalam bahasa Indonesia.
“Hai, apa kalian menjadi lulusan terbaik di sekolah?”, tanyaku penasaran.
“Tentu saja Sadewa yang menjadi juara umumnya. Dia meraih nilai tertinggi diantara siswa lainnya”, kata Nakula memuji saudara kembarnya itu.
“Ah bisa saja. Nakula juga menjadi juara 1 dikelasnya. Tentu saja nilainya juga tertinggi diantara teman-temannya”, balas Sadewa.
“Jadi kalian mau kuliah dimana?”
“Universitas of Delhi”, mereka menjawab secara bersamaan.
“Kalau kamu dimana?”, tanya Sadewa.
“Aku tidak tau, aku bingung. Aku sudah memilih jurusannya. Tapi aku belum menentukan tempat kuliahnya”, kataku.
“Kuliah disini saja. Bahasa Hindi, dan tulisan Devanagari mu kan sudah bagus. Pasti kamu mengerti apa yang dosen kata kan dan kamu juga pasti mengerti huruf  Devanagari”, Nakula menyarankanku.
            Aku belum memikirkan soal itu. Entah aku akan langsung kuliah, atau istirahat dulu. Aku mencoba meminta saran dari ayah. Dan ayah bilang, aku akan di kuliahkan di Delhi. Ya aku senang, tapi bagaimana dengan Nandita? Apa dia akan disini bersamaku atau akan pulang meninggalkan aku.
Ah, terserah. Yang penting, sekarang aku akan menghabiskan waktu disini bersama keluargaku. Sungguh hal terindah dalam hidupku.
Hari demi hari kami lalui bersama, bermain basket bersama Nakula, Sadewa, Kavita, dan Nandita.
Olahraga pagi bersama kakek, papa, paman Vinay, dan paman Pandu. Memasak bersama nenek, mama, bibi Rada, dan bibi Neha. Menghadiri acara surya puja bersama. Oh lengkapnya hidupku jika aku bersama mereka.
Tapi sudah satu minggu berlalu. Kami harus pulang, karena Nandita harus mengikuti MOS disekolah barunya. Dan aku juga harus mendaftar ke perguruan tinggi, meskipun aku belum menentukan tempatnya. Rasa nya aneh sekali, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus berkemas untuk pulang ke Indonesia. Tapi saat aku berkemas, papa dan kakek datang ke kamarku, entah ada apa mereka berdua kesini. Mungkin ada hal penting yang ingin mereka katakan padaku.
“Kamu mau kemana?”, tanya kakek dengan tersenyum.
“Besokkan aku harus pulang kek, aku harus mendaftar ke perguruan tinggi”.
“Hmmm, bagaimana kalau kamu kuliah disini saja bersama Nakula dan Sadewa?”
“Ide bagus, tapi apa papa dan mama mengijinkanku untuk itu?”, kataku.
“Tentu saja. Papa dan mama sangat mengijinkan sekali. Lagipula kamu yang bilang kan kalau kamu ridndu sekali dengan semuanya yang ada disini? Jadi kami memberikan waktu lebih lama untuk kamu tinggal disini”, kata papa sambil menepuk pundakku.
“Terimakasih papa. Aku sanagt senang sekali. Tapi bagaimana dengan pendaftarannya?”
“Papa dan paman Vinay sudah mendaftarkanmu di Universitas of Delhi, kampus terbaik yang ada di Delhi. Kamu senang kan?”
“Iya pa. Aku sayang papa”.
            Dua hari kemudian papa, mama dan Nandita pulang ke Indoneisa. Dan aku harus bersiap untuk mengikuti test di Universitas of Delhi. Dan tiba waktunya aku melakukan test, aku diterima kuliah disana begitu pun dengan sikembar Nakula dan Sadewa. Di kampus aku bertemu dengan Pooja dan Arjun, kami sudah lama tidak bertemu. Meskipun aku sudah berhari-hari di Delhi, tapi aku baru kali ini bertemu lagi dengan mereka. Saat istirahat kami bertiga ke kantin untuk makan bersama dan tentu saja mengobrol. Aku jadi ingat, dulu kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama. Kami bertiga selalu bermain ditempat rahasia kami. Tapi sekarang entah bagaimana nasib tempat itu. Jika masih ada, aku ingin sekali kesana bersama Pooja dan Arjun.
“Wah, kamu ini sombong sekali ya. Sudah berhari-hari di Delhi tapi tidak mengabariku. Apa kamu sudah lupa? Teman macam apa dirimu ini. Haha” begitulah Arjun mengejekku.
“Eh tenang dulu, mungkin dia sedang sibuk”, kata Pooja.
“Arjun, tentu saja aku tidak lupa. Beberapa hari yang lalu aku sempat ke rumahmu. Tapi katanya, kamu sedang pergi bersama Pooja ke toko buku. Jika aku tau dimana toko bukunya, aku pasti akan menyusul kalian.
Pooja memang benar, aku memang sibuk. Aku sibuk menghabiskan waktu bersama keluargaku. Karena sudah lama aku tidak bertemu mereka”.
“Haha, iya aku mengerti. Lalu dimana Nandita? Apa dia juga disini. Aku sangat merindukannya. Dia itu gadis yang baik, dan pintar”.
“Oh, dia sudah pulang. Dia akan melanjutkan sekolahnya di Indonesia”
“Lalu kapan kamu akan pulang ke Indoneisa?”, tanya Arjun.
“Mungkin jika waktu libur”.
Banyak kebiasaan-kebiasaan yang berubah sejak aku tinggal disini.
Pertama, dimulai dari pagi hari. Biasanya aku bangun jam 6 tapi sekarang aku bangun jam 5 untuk mempersiapkan pemujaan. Dan aku juga menyiapkan sarapan.Tentu saja ditemani nenek, bibi Rada, dan bibi Neha. Sebelum sarapan, kami melakukan surya puja, lalu sarapan dan aku berangkat ke kampus.
Kalau di Indonesia biasanya aku selalu bangun Jam 6, membereskan tempat tidur, mandi, sarapan, langsung berangkat sekolah.
          Kedua, dirumah aku harus memakai Saree (baju khas India), atu Salwar Kamez. Sedangkan di Indonesa, aku bebas memakai baju apa pun tapi tetap sopan. Tapi disini sangat berbeda, anak perempuan harus memakai Saree dan Salwar Kamez. Jujur saja, aku tidak nyaman menggunakan Saree, jadi aku memakai Salwar Kamez saja. Nenek membelikanku banyak baju, tentu saja Saree dan Salwar Kamez. Oh, seperti tidak ada baju lain saja. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah tradisi. Aku juga sebenarnaya tidak percaya diri saat memakai baju-baju itu.
          Ketiga, di sini aku tidak menemukan makanan seperti di Indoneisa. Aku sudah mempunyai daftar makanan yang akan aku makan setiap harinya, dan tentu saja aku membuat makanannya sendiri. Makanan kesukaanku adalah Chole-chole. Dan cemilan kesukaanku adalah Ladu. Tapi aku rindu masakan mama, dan makanan-makanan di Indoneisa. Biasaya kalau aku sarapan di Indoneisa, bersama mama, papa, dan Nandita menu nya Nasi Goreng, Senwich, Bubur Ayam, atau Soto.
Kalu siang, biasanya aku jajan bakso. Tapi disini tidak ada. Dan malam hari aku biasanya makan kwetiau. Disini ada, tapi rasanya sedikit berbeda dari yang biasanya aku makan.
Ah, apa pun itu aku harus bisa terbiasa dengan semuanya.
          Keempat, di Indonesia aku tidak merayakan hari Holly, hari bunga, dan perayaan-perayaan yang ada di India. Tapi disini, aku bisa merayakannya. Aku merayakan Holly dirumah bersama keluarga besarku. Kami saling melempar bubuk yang berwarna warni. Perayaan tidak hanya terjadi dirumah saja, tapi di kampus juga. Aku, Pooja, dan Arjun juga saling melempar bubuk warna-warni dan saling mengucapkan “Happy Holly”. Dan di sini para pemuda pemudi merayakan hari Bunga. Ada 2 warna bunga yang penuh arti. Warna merah untuk kekasih/untuk menyatakan cinta. Dan warna kuning untuk sahabat.
Arjun memberikan aku bunga yang berwarna kuning, tapi kenapa Arjun memberika bunga yang berwarna merah pada Pooja? Hmmm, mungkin memang mereka sudah pacaran. Baguslah kalau begitu.
Dan satu lagi hal yang tidak ada di Indonesia. Perayaan ulangtahun Vasudev Krishna. Disana aku dan keuargaku pergi ke kuil setelah itu kami dan orang-orang lainnya merayakan ulang tahun Vasudev Krishna disepanjang jalan.
Waktu terasa cepat berlalu, dan tidak terasa sudah 3 tahun aku tinggal di sini. Selama 3 tahun ini aku pernah ke Indonesia 2 kali. Dan sudah hampir 1 tahun aku belum kesana lagi. Kuliahku hampir selesai, aku tinggal menyelesaikan skripsiku. Tapi sekarang aku harus menunda untuk menyelesaikan skripsiku. Karena aku harus menghadiri acara pertunangan kedua temanku Pooja dan Arjun. Mereka akan bertunangan, senang sekali melihat mereka berdua bertukar cincin. Aku juga sempat berpikir, kapan aku akan mempunyai kekasih dan bertunangan seperi Pooja dan Arjun.
Pooja menghampiriku dengan gemericik gelang kaki yang dipakainya. Pooja mengajakku berfoto dengannya dan Arjun. Lengkap sudah rasanya hidup mereka.
Keesokan hari nya aku pergi ke suatu tempat. Aku sengaja tidak memberitahu siapa pun.
Aku pergi ke hutan, hanya untuk melihat pemandangan saja dan untuk menyegarkan otakku yang dibuat gila oleh skripsi. Aku terkejut ketika Pooja memanggilku. Tapi bagaimana dia bisa tau kalau aku ada disini?.
            Akhirnya skripsiku pun selesai, wisudaku tinggal 3 hari lagi.
Dan setelah menunggu selama 3 hari, akhirnya aku menjadi lulusan terbaik di Universitas of Delhi begitu pun dengan saudaraku Nakula dan Sadewa.
Papa datang untuk menghadiri acara wisudaku. Papa sangat bangga padaku. Dan aku berencana untuk mencari pekerjaan di Mumbai.
Aku sudah coba melamar pekerjaan di 2 perusahaan, dan salah satu perusahaan menelefonku lebih dulu. Mereka mengajakku bergabung dengan mereka. Dan aku mulai bekerja disana, selama setahun aku bekerja disana akhirnya aku bisa membeli rumah dengan hasil kerja kerasku selama ini. Dan setiap tanggal 15 Agustus aku selalu mengibarkan bendera kebangsaan India dirumahku untuk memperingati hari kemerdekaan negara ini. Dan setiap tanggal 17 Agustus, aku juga mengibarkan bendera negara Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia.
Aku sengaja
memajang kedua bendera itu di depan pintu rumahku. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, tapi aku bangga bisa mengibarkan kedua bendera itu.

Dua bendera itu terlihat gagah berkibar, yang satu mempunyai 4 warna kuning jingga, biru, putih dan hijau. Kuning jingga melambangkan keberanian dan pengorbanan, putih melambangkan kebenaran dan perdamaian, sedangkan hijau mewakili kepercayaan, kesuburan, dan biru kesopanan. Yang satunya lagi memiliki 2 warna, merah dan putih yang bermakna Warna merah melambangkan warna yang dapat menahan hawa jahat, sedangkan warna putih melambangkan kebersihan dan kesucian hati ksatria..
Meskipun aku tinggal di India, tapi aku tidak akan melupakan tanah airku yang kaya akan budaya, yang mengajarkanku banyak hal tentang keramahan, sopan santun, dan semuanya.
Aku berjanji, aku akan kembali ke Indonesia. Dan saat aku di Indonesia, aku berjanji aku akan kembali ke India.
Dua bendera itu sekarang telah menjadi harta berharga dalam hidupku, karena didalam keduanya ada keluargaku, karena keduanya telah memberiku banyak pelajaran yang belum tentu bisa aku dapatkan di negara lain

JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI