Saturday, February 14, 2015

Cerpen-Pemenang



PEMENANG

      Hari ini aku akan menceritakan kisahku. Nama lengkapku Ayu Siwi Ratri.
Dulu aku adalah anak yang malas belajar. Jangankan untuk belajar, menyiapkan buku atau memasukan buku ke dalam tas pun aku malas. Aku memang ingin bersekolah, tapi bukan untuk belajar melainkan untuk bergaya. Disekolah, aku punya gank. Gank ku terdiri dari 5 orang, Lusi, Diana, Maria, Nada, dan aku. Kami berlima sangat hobby shopping. Sampai-sampai anak-anak satu sekolah menjuluki kami berlima shoppaholic. Setiap pulang sekolah aku dan anggota gank ku selalu mampir ke mall untuk belanja, dan tentu saja uang yang kami pakai adalah uang orang tua kami. Saat itu aku tidak peduli berapa banyak uang yang aku pakai untuk belanja. Karena aku berpikir uang orang tua ku tidak akan habis sampai tujuh turunan, haha..
Disekolah aku tidak pernah memperhatikan pelajaran, bahkan saat ulangan pun aku tidak peduli. Mau bisa atau pun tidak, aku sama sekali tidak peduli.
Kebiasaan buruk itu masih aku lanjutkan dikelas 2 SMA.
Sudah berkali-kali orang tua ku dipanggil untuk menghadap kepala sekolah karena nilai-nilaiku yang jelek. Dan sudah berkali-kali juga, orang tua ku menasehatiku untuk belajar, belajar dan belajar. Tapi aku tidak pernah mendengarkannya.
          Orang tua ku mencoba memasukkanku ke beberapa tempat les, tapi aku tidak pernah masuk apalagi mengikuti pelajarannya. Lebih baik aku menghabiskan waktu bersama anggota gank ku ke mall.
Disekolah kami hanya mementingkan penampilan saja, termasuk aku. Meskipun kami satu gank, tapi aku tidak ingin ada satu orang pun yang menyaingi penampilanku.
Aku ingin penampilanku lah yang paling OK diantara siswa lainnya, termasuk anggota gank ku.
Aku tidak mau ada yang menyaingi aku dalam hal penampilan.
Ya untung saja memang tidak ada yang menyaingi aku, termasuk anggota gank ku.
Sempat beberapakali dan beberapa guru bahkan kepala sekolah menegur penampilanku, aku masih ingat saat seorang guru BK (Bimbingan Konseling) menegurku.

“Ayu, saya kan sudah bilang kalau disekolah kamu tidak boleh berdandan berlebihan seperti ini. Itu melanggar peraturan sekolah namanya”, dengan nada tinggi.
“Iya bu”
“Kamu ini dari kelas satu sampai sekarang kelas dua, cuma iya iya aja jawabannya. Tapi mana buktinya? Masih tetep gak ada perubahan kan?”
“Iya bu, mulai besok saya gak akan kaya gini lagi”
“Bagus!”
Aku berkata seperti itu hanya karena aku ingin ibu guru itu pergi meninggalkanku.
Tapi tetap saja, keesokan harinya aku berdandan seperti biasa, memakai hiasan kuku, makeup, dan aksesoris yang berlebihan, yang seharusnya tidak pantas dipakai ke sekolah. Tapi itu lah aku. Selalu mementingkan penampilan.
Tanpa peduli apa kata orang tentang diriku.
         Hingga akhirnya aku kelas 3, aku mulai berpikir untuk masa depanku. Aku berpikir tentang UN (Ujian Negara). Aku sudah berpikir bahwa aku tidak akan lulus dari sekolah ini, dan aku akan mengulang kembali tahun depan.
Oh my god
, sangat memalukan sekali jika aku tidak lulus. Tapi tidak mungkin juga aku belajar sendiri tanpa ada yang mengajariku. Dan tidak mungkin juga aku mengikuti les, karena aku malu. Aku tidak bisa apa-apa dibanding mereka yang bodoh sekali pun.
Huft
, aku memang payah.
Hingga suatu hari aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa mendapat juara dikelasku. Meski pun kedengarannya mustahil bagiku, tapi aku yakin aku bisa.
Sempat aku membuat daftar untuk langkah awalku menjadi anak yang giat belajar.

 

Semoga saja aku bisa memenuhi semua daftarku itu.
Mulai dari yang pertama, berhenti shopping. Hampir setiap hari aku menolak ajakan teman-teman gank ku ntuk shopping dengan alasan yang berbeda, samapai-sampai Maria meledekku.
“Kamu kenapa sih gak pernah ikut shopping lagi sama kita-kita? Ortu kamu bangkrut ya? Hahaha”, Maria sangat senang sekali mengejekku.
“Enak aja, mana ada otu aku bangkrut. Aku Cuma males aja belanja. Lagi pula buang-buang waktu”, kata ku sambil meninggalkan Maria.

          Aku tidak terlalu memikirkan apa yang Maria katakan, dan langkah pertama sudah berhasil.
Lanjut ke langkah kedua, yaitu mengurangi waktu bermain, dan pastinya semua ajakan anggota gank ku untuk bermain aku tolak, dengan berbagai alasan. Aku tidak peduli jika mereka marah padaku. Dan aku juga sempat bertengkar dengan Lusi gara-gara aku tidak mau lagi bermain bersama mereka.
“Ayu, kamu tuh kenapasih? Udah seminggu ini sikap kamu tuh beda banget”, kata Lusi sambil menatapku tajam.
“Maaf, bukannya aku gak mau berteman lagi sama kalian. Aku masih mau ko berteman sama kalian. Bukan nya kalian juga temanku? Ya tapi untuk sekarang, aku udah gak mau lagi shopping-shopping, buang-buang waktu untuk main, apa lagi itu semua kan gak bermanfaat Lus”
What?  Sejak kapan kamu peduli sama waktu?”
“Itu terserah kalian menanggapinya seperti apa. Tapi aku cuma mau jadi diri aku sendiri”, tegasku di depan Lusi
.
Langkah ketiga sudah otomatis aku lakukan. Dengan meninggalkan kebiasaan shoppingku, dan mengurangi waktu bermain dengan anggota gankku, aku sudah jarang bergaul dengan mereka.
Bahkan untuk bicara saja sudah jarang, tapi jika aku bertemu dengan mereka pasti aku selalu menyapanya, meski pun mereka tidak membalas sapaanku. Dan aku sudah terbiasa dengan semua itu. Rasanya separuh dari kebiasaan burukku sudah hilang.
Aku lanjutkan langkah keempat, mendekatkan diriku kepada Allah SWT. Jujur saja, semenjak aku mengenal mereka aku jadi tidak pernah sholat apa lagi mengaji. Aku merasa malu sekali pada diriku, aku telah membuat dosa yang besar dengan meninggalkan kewajibanku sebagai Muslimah.
Dan mulai sekarang aku akan merubah semuanya, dimulai pada pagi hari aku bangun lebih awal, yaitu pukul 04:30. Aku bangun tidur langsung mengambil wudhu dan meaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibanku sebagai Muslim. Ke sekolah aku juga membawa mukena untuk sholat di mushola sekolah. Lusi, Maria, Diana, dan Nada mentertawakanku saat aku keluar kelas dengan membawa mukena, dan aku juga masih ingat apa yang mereka katakan padaku.
“OMG, sejak kapan dia Sholat? Emang dia tau caranya Sholat? Hahaha,” Maria terbahak-bahak mentertawakanku.
“Kalian kenapa sih? Emang salah ya kalau aku Sholat? Apa kalian juga mau ikut Sholat?”, ajakku.
“Iuh, ogah banget. Ntar kalo udah tua aja Sholatnya”, sinis Nada padaku.
“Ya ampun, ko kamu gitu banget sih Nada?”
“Emang kenapa? Masalah buat loe?”, balas Nada.
Aku meninggalkan mereka dan menuju ke mushola untuk Sholat Dzuhur. Aku tidak peduli apa yang mereka katakan tadi. Karena aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.
Sudah seminggu lebih aku selalu melaksanakan Sholat, dan langkah keempat sudah aku jalankan.
Selanjutnya langkah kelima pun aku lakukan. Saat itu aku baru mulai berpikir tentang orang tuaku, tentang papa dan mama ku yang bekerja keras untuk menyekolahkanku. Dan aku tau mereka pasti mengharapkan aku berprestasi disekolah. Tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya bisa menghabiskan uang nya saja dengan membeli barang-barang yang tidak penting, spa disalon, dan banyak hal yang membuatku menghanbur-hamburkan uang.
Aku mulai berpikir kritis tentang orang tuaku, meski pun papaku bekerja sebagai akuntan disalah satu bank, dan ibuku seorang pembawa acara berita disalah satu stasiun televisi, tapi pekerjaan mereka tidaklah mudah. Papaku harus lembur setiap akhir bulan karena bank akan tutup buku. Betapa aku tidak memikirkan papaku yang bekerja dari pagi smapai pagi lagi hanya untuk sesuap nasi. Ya Allah, aku merasa bersalah sekali pada mereka berdua. Dari situ aku mulai memperhatikan mereka, setiap sore aku selalu membuatkan makanan untuk mama dan papa. Itu sudah menjadi kebiasaanku dirumah. Mama dan papa pun sangat terkejut melihat perubahanku. Tapi mama dan papa juga bangga dengan perubahan sikapku.
Aku akan terus seperti ini, akan terus peduli dan perhatian kepada mama dan papa.
          Sudah menuju akhir, langkah keenam pun berjalan.
Aku mulai belajar mandiri dalam segala hal, dari mulai mencuci baju, mencuci sepatu, mencuci tas, membereskan kamar, merapihkan rumah, mengerjakan PR, semua nya aku lakukan sendiri. Meskipun ada beberapahal yang sulit, aku mencoba minta bantuan kepada mama. Mama mengajariku semuanya, dan aku sekarang merasakan betapa capeknya mama membereskan rumah sendirian. Dan sekarang mama tidak perlu repot-repot untuk merapihkan rumah, mencuci baju-bajuku, mencuci sepatu-sepatuku, dan semuanya, termasuk memasak. Aku selalu bangun jam 4 subuh, aku menyempatkan untuk merapihkan tempat tidur, membersihkan isi rumah dan memasak. Aku tidak mau kalau sampai mama yang mengerjakan semua pekerjaan berat itu, karena aku tau mama sudah penat dengan pekerjaannya.
Langkah terakhir, aku sudah terbiasa dengan semua daftar yang aku buat sendiri. Dan aku tinggal fokus belajar untuk UN (Ujian Negara). Yaa.. walau pun aku masih semester V (lima), tapi apa salahnya jika aku belajar lebih giat.
Aku mempunyai target untuk kelulusanku. Pertama, aku akan memperbaiki semua nilai-nilaiku yang jeleknya gak ketulungan. Aku mulai belajar dengan serius, memperhatikan setiap perkataan guru dan mencoba berlatih dirumah.
Dan ketika ulangan harian Biologi aku mendapatkan nilai 8, itu pertama kalinya aku mendapat nilai 8 dalam pelajaran Biologi. Sebelumnya nilai ulangan Biologiku hanya 4 dan 5,6 saja. Aku sangat bersyukur sekali karena aku sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit pelajaran Biologi. Dan ketika ulangan harian Matematika aku mendapatkan nilai 7, meskipun masih dibawah KKM, tapi ini lebih baik dibandingkan nilai ulangan harianku sebelumnya yang hanya mendapat nilai 3. Aku sangat senang dengan perkembanganku dalam belajar. Dan pada semester V (lima) ini aku mendapat peringkat ke 5. Dan pada semester VI (enam), aku mendapat peringkat ke 3.
Aku sangat banga dengan semua ini, karena selama aku masuk sekolah SMA, aku tidak pernah berprestasi bahkan tidak pernah mendapat peringkat.
Dan tiba saatnya Ujian Negara (UN), ada 4 mata pelajaran yang di uji kan, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPA.
Semua soal UN sudah aku habisi, dan aku tinggal menunggu hasilnya saja.
Dan setelah itu, kelulusan pun diadakan dan kepala sekolah menyebutkan nama siswa-siswi yang mendapat nilai terbaik. Aku sangat terkejut ketika kepala sekola menyebut namaku sebagai juara ke 3. Aku, papa, dan mama sangat senang seklai, dan untuk pertama kali nya aku mendapat juara di sekolah ini.
Aku sangat sangat sangat tidak menduga semuanya akan menjadi lebih baik seperti in. Lalu aku memutuskan untuk kulian di jurusan HI (Hubungan Internasional) di Universitas Negeri di Bandung. Setelah aku masuk kuliah, banyak perubahan yang aku alami. Aku merasa aku berbeda dengan mahasiswa lainnya, aku merasa aku bisa menaklukkan semua matakuliah di jurusan ini. Dan aku bangga dengan diriku.


Pesan:
Jika kalian tidak bisa menjadi orang yang pintar, maka jadilah orang yang baik.

JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

Cerpen-Muzizat itu Nyata



MUZIZAT ITU NYATA

         

Sejak aku lahir, aku sudah sering sakit-sakitan. Dari mulai sakit liver, jantung, dan masalah di bagian pencernaan. Saat itu lahir dengan berat badan 11 0ns, dan panjang 37cm . Kelahiranku dibantu oleh dokter Purnomo.
Aku lahir dismatur (kelebihan umur). Dari lahir sampai umurku 7 bulan, aku dirawat dirumah sakit Panti Rapih Yogyakarta, aku tidak bisa pulang kerumah dulu karena kondisiku yang belum membaik. Selama 7 bulan didalam inkubator, setiap hari mama memberikanku ASI melalui selang yang dipasangkan dibadanku.
Mama selalu setia merawatku, menungguku di rumah sakit. Terkadang kakek, bude, dan om ku juga ikut menjagaku dirumah sakit.
Setiap hari mama berdoa untuk kesembuhanku, mama tidak pernah berhenti meminta kesembuhanku.
Pihak rumah sakit pun berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk kesembuhanku.
Sampai-sampai mamaku meminta kepada rumah sakit untuk segera mengambil tindakkan untuk segera menanganiku.
“Dokter, saya minta sembuhkan anak saya. Kenapa dokter tidak segera mangambil tindakan?”
“Maaf bu, kami bisa mengambil tindakkan jika kondisi anak ibu sudah memungkinkan”
“Dokter, saya bisa bayar berapa pun untuk kesembuhan anak saya, tapi saya mohon dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya”
“Iya ibu, saya tau. Tapi untuk hal ini, saya ingin ibu mengerti keadaannya”
Mama hanya bisa menangis sambil melihatku yang terbaring dengan beberapa selang yang terpasang ditubuh mungilku.
Mama tidak pernah menghubungi papa, bahkan papa sudah meninggalkan mama saat mama sedang mengandungku.
Aku bisa mengerti bagaimana perasaan mama saat itu, yang seharusnya seorang suami berada disamping istri nya saat istrinya melahirkan. Tapi papa malah tidak ada. Bahkan papa pun tidak tau ketika mama melahirkanku.
Seharusnya ketika aku lahir, papa mengadzaniku, tapi papa malah tidak berada disampingku saat aku lahir. Hanya kakek yang mendampingi mama diruang bersalin.
Kakek juga yang mengadzaniku, dan tentu saja kakek dari mamaku.
Aku tidak pernah melihat kakek dan nenek dari papaku, bahkan mendengar suaranya saja aku tidak pernah, sampai saat ini.
          Semua keluargaku sangat menyayangiku, sehingga mereka pun memberikan nama yang indah dan cantik untukku, nama yang penuh arti, Jelita Desi Natalia. Ya, itu lah namaku. Jelita artinya gadis yang cantik, Desi artinya Desember karena aku lahir bulan Desember, dan Natalia artinya Natal karena tanggal kelahiranku sama dengan hari natal.
Betapa mereka sangat menyayangiku dengan tulus, aku tidak pernah kehausan akan cinta dari keluargaku, termasuk mama dan kakakku. Karena keluarga kecil yang aku punya hanya mama dan kakakku.
Saat malam hari ketika semua orang akan tidur, dokter mengetuk pintu kamar tempat aku dirawat.
“Maaf bu malam-malam begini saya mengganggu. Tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan tentang anak ibu”
“Kenapa dok? Anak saya sudah sembuh? Apa sudah bisa dilakukan tindakan?” tanya mama dengan rasa penasaran.
“Maaf ibu, tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan. Sebelumnya, saya dan dari pihak rumah sakit mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk anak ibu. Tapi anak ibu tetap saja tidak ada perkembangan. Jadi kami memutuskan untuk mengembalikan anak ibu untuk dirawat dirumah saja”
“Apa dokter? Tapi kenapa? Saya yakin anak saya bisa sembuh jika dirawat disini dok”
“Maaf bu, pihak rumah sakit termasuk saya sudah tidak sanggup menangani anak ibu. Dan besok siang, anak ibu sudah boleh pulang”.
Betapa sedihnya mama saat mendengar semua itu dari dokter. Mama tidak bisa tidur semalaman, mama hanya menangis dan menangis. Tapi disela-sela mama menangis, ada orang yang mengetuk pintu kamar dan mama segera membukakannya.
Mama sangat terkejut karena yang datang adalah leluhurku, beliau mendatangi mama untuk memberi tau obat untuk kesembuhanku. Mereka berbicara dalam bahasa jawa. Tapi aku akan tuliskan artinya.
“Nak, jangan susah jangan sedih. Setelah sholat subuh nanti, kamu harus cari biji kemangi sama gula aren. Lalu seduh dengan air hangat, minumkan itu setiap pagi dan sore kepada Jelita, insyaAllah Jelita akan segera sembuh”
“Iya mbah, saya pasti akan lakukan, apapun demi kesembuhan anak saya”, kata mama sambil menunduk memberi hormat pada beliau.
Dan ketika mama melihat kedepan, beliau sudah tidak ada.
“Mbah, mbah dimana?”
Mama mencoba mencari beliau tapi sudah tidak ada. Dan mama langsung menelefon bibinya untuk mencarikan biji kemangi dan gula aren untukku nanti pagi.
Keesokan harinya, bibi dari mamaku datag membawakan semuanya, dan mamaku langsung menyeduhnya dan meminumkannya padaku. Tak lama setelah itu, dokter dan suster datang untuk memeriksaku. Dan Subhanallah, doktek bilang aku sudah sembuh.
“Ibu, ini benar-benar muzizat. Semuanya sudah normal, seperti bayi yang baru lahir dengan normal. Tapi saya minta ibu jangan membawa anak ibu pulang dulu, karena kami harus memantau perkembangannya. Ini sangat luar biasa bu”
“Baik, kalau begitu”.
Hari pertama aku meminum ramuan itu, sudah ada perubahan. Dan semakin hari semakin membaik. Ini semua berkat Tuhan.
Sampai akhirnya dokter mengizinkan aku pulang. Betapa bahagianya mama dan kakakku ketika membawa ku pulang. Dan ternyata dirumah sudah ada acara pengajian untukku. Ternyata bude, pakde, dan kakekku sudah menyiapkan acaranya.
Aku sangat berterimakasih kepada keluargaku yang sangat menyayangiku..



JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

Cerpen-Flying Without Wings



FLYING WITHOUT WINGS

            Sejak kecil aku sangat ingin sekali terbang seperti burung, tapi aku tidak mempunyai sayap untuk terbang. Dan mustahil rasanya jika aku punya sayap.
Aku sering bercerita kepada ibu tentang keinginanku
“Bu, aku ingin sekali terbang seperti burung. Tapi aku tidak punya sayap. Bagaimana cara aku bisa terbang bu?”, tanyaku polos.
“Sayang, kamu bisa terbang tanpa sayap. Tidak harus seperti burung”
“Benarkah? Jadi kapan aku bisa terbang? Aku ingin sekali mengelilingi dunia bersama ibu dan ayah. Aku ingin kita semua bisa terbang”
“Iya nak”. Kata ibu dengan mata berkaca-kaca.
Aku benar-bernar ingin terbang seperti burung, tidak perlu membayar untuk biaya transportasi, dan tidak merepotkan ibu dan ayahku.
Aku juga bereritahu tentang keinginanku pada ayah.
“Ayah, aku ingin terbang seperti burung. Bagaimana caranya?”
“Kamu akan terbang nak, bahkan kamu akan terbang lebih tinggi dari burung-burung di langit. Asalkan kamu berusaha supaya kamu bisa terbang”
Apa yang dikatakan ayah itu benar, aku tau maksudnya. Aku harus belajar lebih giat lagi supaya aku bisa menjadi orang yang berhasil. Dan jika aku sudah berhasil, aku bisa kemana saja, bahkan aku bisa membawa ibu dan ayahku keliling dunia.
            Di pagi yang cerah ini aku akan mulai belajar di perguruan tinggi, aku diterima di perguruan tinggi ini karena aku mengikuti jalur bidik misi, dan aku diterima.
Aku tidak perlu membayar uang SPP, uang praktek, dan yang lainnya. Sedikit demi sedikit aku bisa mengurangi beban kedua orangtuaku. Malah aku mendapat uang bulanan dari pemerintah, itu semua cukup untuk keperluanku. Dan aku juga selalu memberikan separuh uang bulananku pada ibu dan ayah.
Di perguruan tinggi ini aku mengambil jurusan Ekonomi, jurusan yang sangat bergengsi dan banyak diminati mahasiswa.
Aku sangat beruntung bisa masuk ke jurusan itu, karena matakuliahnya tidak terlalu sulit bagiku, dan aku bisa mengikutinya dengan baik.
Disana aku dekat sekali dengan dosen bahasa inggris, namanya Mrs.Lida.
Mrs. Lida sangat baik padaku, dia sudah menikah dan mempunyai 2 anak, sempat beberapa kali aku di undang untuk berkunjung kerumahnya. Disana kami mengobrol tentang banyak hal. Dan Mrs.Lida memberitahuku untuk mengikuti lomba debat bahasa inggris.
“Kamu mau ikut lomba debat bahasa inggris gak?” tanya Mrs.Lida datar.
“Mau mis, tapi dimana? Kapan? terus daftarnya ke siapa?”
“Tenang, tenang, tenang. Jangan buru-buru. Daftarnya ke saya”
“Aku mau ikut mis, plis.. boleh kan”
“Boleh, bentar dulu ya. Saya mau ambil formulir sama syarat-syaratnya”
Akhirnya Mrs.Lida datang dan menyuruhku mengisi formulir dan memberikan kertas yang berisi syarat-syarat yang harus dipenuhi.
 Aku langsung mendaftarkan diri ke Mrs.Lida. Aku juga memberitahu ibu dan ayahku. Mereka sangat mendukung, lega sekali rasanya jika restu orang tua sudah berada ditangan.
Aku langsung memenuhi persyaratannya. Lalu aku mendapat jadwal test nya. Ternyata test nya 4 hari lagi, dan semoga saja aku diterima.
Saat yang ditunggu tunggu telah tiba, aku mengikuti test pukul 11 siang dan aku harus menunggu hasilnya sekitar jam 2. Setelah lama menunggu akhirnya aku dipanggil kembali masuk ke ruangan, dan akhirnya aku diterima untuk mengikuti lomba itu.
Perlombaan akan dimulai 1 minggu lagi, jadi aku harus mempersiapkan semuanya dengan matang.
Seminggu kemudian aku mengikuti lomba, dan hasilnya langsung diumumkan hari itu juga. Aku menjadi salah satu peserta yang memenangkan perlombaan itu. Aku juara 1. Dan hadiah yang sangat spesial sudah menungguku, yaitu aku bisa pergi ke London untuk traveling. Aku sangat senang dan langsung memberitahukan kepada ibu dan ayah.
“Ayah, ibu aku menang lomba”, teriakku bahagia.
“Syukurlah nak, kamu pasti dapat beasiswa lagi ya?” tanya ayah dengan penuh harapan.
“Bukan ayah, aku tidak dapat beasiswa. Tapi aku dapat apa yang selama ini aku mau. Aku akan pergi ke London. Itu berarti aku akan terbang naik pesawat”.
“Benarkan kata ayah, kamu pasti bisa terbang, walau tanpa sayap”
“Iya ayah, ini semua karena dukungan dari ibu dan ayah. Aku sangat sayang pada kalian”
Aku, ibu, dan ayah saling berpelukkan.

Dan keesokan harinya, aku pergi untuk mengurus paspor.
Akhirnya, impianku untuk terbang seperti burung tercapai, dan benar kata ayah, aku bisa terbang tanpa sayap, dan aku bisa terbang lebih tinggi dari burung.
Dan tulisan ini aku buat saat aku berada di London.


Jangan berhenti bermimpi
Jangan berhenti meraih mimpimu
Kejar dan kejar terus
Setiap orang yang punya mimpi,
pasti punya jalan untuk meraihnya
.




JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI



Thursday, January 29, 2015

BUNGA MAWAR DARI KUBURAN

     Cerita ini berawal dari salah satu kuburan di TPU dekat sekolahku.
Namaku Shinta dan adikku bernama Shanti, kami berdua saudara kembar. Aku dan saudara kembarku memutuskan pulang sekolah melewati kuburan. Rumah kami tidak jauh dari sekolah, hanya 150 meter jaraknya. Jadi kami selalu jalan kaki.
Kami berdua melihat ada orang yang baru dikubur. Sepertinya beliau orang nasrani, karena banyak bunga-bunga bagus dan salib disana, aku dan saudara kembarku mebghampiri makam itu.
Aku tertarik pada seikat bunga mawar yang masih dibungkus plastik.
Tapi Shanti tidak mengijinkanku untuk mengambilnya.
Shanti: Shinta, jangan di ambil.. (dengan nada tinggi)
Aku     : Kenapa? Kamu mau juga? Ambil aja sendiri, masih banyak ko..
Shanti: Haduh, bukan itu maksud aku Shinta. Ntar kalo arwah dari kuburan ini
             ngikutin kita gimana? Emang kamu gak takut apa?
Aku     : Halah, aku gak percaya. Ayo pulang..
Shanti: Dasar kepala batu..
Aku mengambil bunga mawar itu dan membawanya pulang.
     Setelah sampai dirumah, bunga mawar itu aku simpan di pot kaca berisi air. Bunga itu terlihat sangat cantik. Awalnya aku tidak merasa ada yang aneh, tapi setelah malam tiba, kami berdua makan malam dan beljar. Kami dirumah hanya tinggal berempat. Aku, Shanti, bi Sumi (pembantu), dan mang Sule (tukang kebun sekaligus penjaga rumah). Orang tua kami sedang ada di luar kota, pekerjaanlah yang mengharuskan mereka pergi, mereka pergi untuk mengurus bisnisnya di Jakarta, mereka disana hanya 1 bulan. Dan sekarang baru 1 minggu mereka pergi.
Setelah belajar kami memutuskan untuk tidur, tapi sebelum tidur aku memandangi bunga mawar yang cantik itu. Lalu aku tidur.
Keesokan harinya aku dan Shanti pergi kesekolah seperti biasa tanpa ada hal aneh yang menerorku. Tetapi setelah kami pulang sekolah, semua suasana disekitar kami berubah. Beberapa kejadian aneh pun bermunculan.
Pertama, saat pulang sekolah dikamar kami tercium bau bunga melati, bau itu hanya datang ketika kami pulang sekolah dan ketika kami akan tidur.
Saat itu kami baru selesai belajar. Lalu kami membahas soal bau bunga melati itu.
Aku     : Kamu nyium bau bunga melati gak?
Shanti: Iya, haaa.. aku takut nih ta, gimana donk?
Aku     : Huust, jangan berisik deh. Aku juga takut tau. Tapi dari mana datangnya bau ini?
Shanti: Ya mana aku tau (dengan wajah yang menyebalkan)
Aku     : Ih kamu ini, aku lagi serius tau. Apa jangan-jangan (pikiranku sudah mulai kacau)
Shanti: Jangan-jangan roh kuburan yang punya bunga mawar ini datang?
Aku     : Jangan sompral deh shan..
(Tak lama setelah perbincangan  itu, ada yang mengetuk-ngetuk jendela. Kami langsung bersembunyi di selimut).
Setelah suara itu hilang, kami langsung tidur. Tapi aku tidak bisa tidur. Aku masih takut, dan aku mempertimbangan pedapat Shanti tadi. Apa benar roh itu meminta bunganya? Tapi aku tidak percaya.
Keesokan harinya kami bangun agak siang, karena hari minggu. Shanti bangun lebih dulu dariku. Dan dia membangunkan aku dengan paniknya.
Shanti: Shinta, bangun Shinta.. (sambil membangunkanku)
Aku     : Iya bawel, ada apa? (sambil menguap)
Shanti: Coba lihat ini (menunjukan selembar kertas padaku)





Aku kaget dan benar-benar tidak percaya. Tapi dari mana datangnya kertas ini?
Tapi jika Shanti yang menulisnya pasti tidak mungkin. Aku tau betul tulisan Shanti. Dan kertasnya juga berbeda. Aku tidak punya kertas seperti itu.
Beberapa menit aku terdiam memikirkan ini semua, karena masih banyak pertanyaan tentang surat itu.
Lalu aku ke dapur untuk menemui bi Sumi.
Aku      : Bi, aku mau cerita.. (semuanya aku ceritakan dengan rinci)
Bi Sumi: Non Shinta ini gimana toh, lha wong udah tau bunga itu ada dikuburan, kenapa
              masih aja diambil? Bukannya gak boleh ya mengambil sesuatu dari kuburan?
Aku      : Iya bi, aku kan Cuma pengen bunga nya aja. Terus gimana nih bi?
Bi Sumi: Ya non kembaliin aja bunganya, non kan bisa beli lagi bunga nya di toko.
              Lagipula bener kata non Shanti, “jangan ngambil sesuatu apa pun dari kuburan
              ntar roh nya ngikutin” buktinya aja non Shinta di ikutin kan?
Aku      : Iya bi.
Bi Sumi: Ya udah, sekarang non kembalikan bunganya. Sambil minta maaf juga ya..
(Aku hanya tersenyum sambil meninggalkan bi Sumi)
Aku dan Shinta bergegas kekuburan dan mengembalikan bunga itu ke tempatnya. Tak lupa aku juga meminta maaf.

Pesan: Jangan mengambil sesuatu disembarang tempat.
       Meskipun sesuatu itu terlihat bagus dan menarik.



JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

CERPEN tentang CINTA

THAT SOME BODY’S ME

     Aku mengharapkan bel istirahat berbunyi. Dan benar saja, 2 menit kemudian bel istirahat berbunyi. Setiap jam istirahat pertama aku selalu ke perpustakaan untuk membaca buku dan melihat dia.
Melihat orang yang menjadi raja dihatiku. Siapa lagi kalau bukan Ibrahim.
Anak laki-laki keturunan Turki itu yang menjadi salah satu alasan kenapa aku ke perpustakaan.
Ibrahim adalah kakak kelasku, dia kelas 3 IPA dan aku kelas 2 IPA. Sayang sekali aku tidak satu angkatan dengannya.
Aku mulai menyukainya ketika aku melihatnya membaca buku di balkon depan kelasnya. Kebetulan kelasku dan kelas Ibrahim bersebrangan, dan kelas kami pun sama-sama di atas dan berhadap-hadapan.
Dari situ aku selalu memperhatikannya, dan mulai mencari tau tentang Ibrahim.
Aku tidak tau apakah Ibrahim tau jika aku sedang memperhatikannya atau tidak.
Ibrahim juga siswa yang banyak menetak prestasi disekolah, baik dalam bidang akademik, maupun non akademik. Itu juga salah satu alasan mengapa aku menyukainya.
Tapi tidak ada satu orang pun yang tau bahwa aku menyukai Ibrahim, termasuk Putri sahabatku.
     Aku selalu memperhatikan Ibrahim meskipun aku tau bahwa Ibrahim tidak terlalu memperdulikan itu. Dan beberapa kali Putri memergoki aku sedang memperhatikan Ibrahim.
Putri: Hayo lagi apa? (sambil menepuk pundakku)
Aku  : Kamu ini ngaget-ngaettin aja Put. Gak lagi ngapa-ngapain ko..
Putri: Bener nih? Ayo masuk ke kelas, kita selesain tugas fisika yang tadi.
(aku dan Puteri langsung masuk ke kelas. Dan aku tidak melihat Ibrahim lagi)
     Aku selalu menyempatkan untuk mencari tau tentang Ibrahim, ternyata dia belum punya pacar. Betapa senangnya aku ketika mengetahui hal itu.
Dan semenjak aku menyukai Ibrahim, aku sering menulis puisi, cerita, ataupun kata-kata lainnya. Misalnya seperti minggu lalu, Ibrahim memenangkan lomba pidato Bahasa Inggris. Aku memberikannya ucapan pada selembar kertas, dan aku simpan di sela-sela buku yang dia baca di perpustakaan.
Bukan hanya sekali aku melakukan hal itu, tapi sudah sering. Tapi Ibrahim tidak tau siapa yang menulis semua itu untuknya. Aku sempat melihat dia bertanya-tanya tentang orang yang selalu mengiriminya puisi, kata-kata, ucapan-ucapan. Tapi tidak ada yang tau bahwa that some body’s me.
Hingga suatu saat aku tau bahwa Ibrahim berpacaran dengan Putri, sahabat sekaligus teman sebangku ku.
Aku tidak menyangka, karena yang aku tau Putri dan Ibrahim tidak saling kenal dan aku tidak pernah melihat mereka berbiara berdua sebelumnya.
Semenjak Ibrahim berpacaran dengan Putri, Ibrahim selalu ke kelasku setiap jam istirahat ke dua untuk menemui Putri.
Kerap kali mereka berdua mengajakku pergi bersama mereka, tapi tentu saja aku menolakknya karena hatiku akan terbakar dan mataku akan mengeluarkan air mata jika aku melihat mereka berdua. Aku cemburu, tapi ini semua buka salah Ibrahim, karena dia tidak tau bahwa aku menyukainya. Dan ini juga bukan salah Putri karena Putri juga tidak tau bahwa selama ini aku menyukai Ibrahim.
Tapi hubungan mereka tidak bertahan lama. Mereka hanya 4 bulan berpacaran.
Entah apa yang membuat mereka berpisah. Dan aku juga tidak mau tau apa penyebabnya.
     Banyak surat yang aku tulis untuk Ibrahim. Tapi aku tidak mau memberikannya pada Ibrahim. Hingga akhirnya tiba waktunya perpisahaan untuk kelas 3, dan aku memberanikan diri memberikan surat-surat itu pada Ibrahim. Tidak semua surat aku berikan. Hanya ada 7 surat yang aku berikan padanya, dan Ibrahim berjanji akan membacanya nanti.
Aku    : Kak, ini ada surat. (tanganku bergetar saat memberikan surat itu)
Ibrahim: Dari siapa? Dari kamu? (Ibrahim tersenyum sambil menatapku)
(Aku hanya mengangguk lalu lari ke kelas)
Aku memberikan surat-surat itu karena aku tau bahwa Ibrahim akan kembali ke Turki. Aku hanya ingin dia tau tentang perasaanku. Dan seseorang yang menulis sesuatu untuknya, that some body’s me.
Ini adalah surat terakhir yang aku tulis untuk Ibrahim, dan aku berharap Ibrahim akan membalas surat dariku.


















JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI