Thursday, January 29, 2015

BUNGA MAWAR DARI KUBURAN

     Cerita ini berawal dari salah satu kuburan di TPU dekat sekolahku.
Namaku Shinta dan adikku bernama Shanti, kami berdua saudara kembar. Aku dan saudara kembarku memutuskan pulang sekolah melewati kuburan. Rumah kami tidak jauh dari sekolah, hanya 150 meter jaraknya. Jadi kami selalu jalan kaki.
Kami berdua melihat ada orang yang baru dikubur. Sepertinya beliau orang nasrani, karena banyak bunga-bunga bagus dan salib disana, aku dan saudara kembarku mebghampiri makam itu.
Aku tertarik pada seikat bunga mawar yang masih dibungkus plastik.
Tapi Shanti tidak mengijinkanku untuk mengambilnya.
Shanti: Shinta, jangan di ambil.. (dengan nada tinggi)
Aku     : Kenapa? Kamu mau juga? Ambil aja sendiri, masih banyak ko..
Shanti: Haduh, bukan itu maksud aku Shinta. Ntar kalo arwah dari kuburan ini
             ngikutin kita gimana? Emang kamu gak takut apa?
Aku     : Halah, aku gak percaya. Ayo pulang..
Shanti: Dasar kepala batu..
Aku mengambil bunga mawar itu dan membawanya pulang.
     Setelah sampai dirumah, bunga mawar itu aku simpan di pot kaca berisi air. Bunga itu terlihat sangat cantik. Awalnya aku tidak merasa ada yang aneh, tapi setelah malam tiba, kami berdua makan malam dan beljar. Kami dirumah hanya tinggal berempat. Aku, Shanti, bi Sumi (pembantu), dan mang Sule (tukang kebun sekaligus penjaga rumah). Orang tua kami sedang ada di luar kota, pekerjaanlah yang mengharuskan mereka pergi, mereka pergi untuk mengurus bisnisnya di Jakarta, mereka disana hanya 1 bulan. Dan sekarang baru 1 minggu mereka pergi.
Setelah belajar kami memutuskan untuk tidur, tapi sebelum tidur aku memandangi bunga mawar yang cantik itu. Lalu aku tidur.
Keesokan harinya aku dan Shanti pergi kesekolah seperti biasa tanpa ada hal aneh yang menerorku. Tetapi setelah kami pulang sekolah, semua suasana disekitar kami berubah. Beberapa kejadian aneh pun bermunculan.
Pertama, saat pulang sekolah dikamar kami tercium bau bunga melati, bau itu hanya datang ketika kami pulang sekolah dan ketika kami akan tidur.
Saat itu kami baru selesai belajar. Lalu kami membahas soal bau bunga melati itu.
Aku     : Kamu nyium bau bunga melati gak?
Shanti: Iya, haaa.. aku takut nih ta, gimana donk?
Aku     : Huust, jangan berisik deh. Aku juga takut tau. Tapi dari mana datangnya bau ini?
Shanti: Ya mana aku tau (dengan wajah yang menyebalkan)
Aku     : Ih kamu ini, aku lagi serius tau. Apa jangan-jangan (pikiranku sudah mulai kacau)
Shanti: Jangan-jangan roh kuburan yang punya bunga mawar ini datang?
Aku     : Jangan sompral deh shan..
(Tak lama setelah perbincangan  itu, ada yang mengetuk-ngetuk jendela. Kami langsung bersembunyi di selimut).
Setelah suara itu hilang, kami langsung tidur. Tapi aku tidak bisa tidur. Aku masih takut, dan aku mempertimbangan pedapat Shanti tadi. Apa benar roh itu meminta bunganya? Tapi aku tidak percaya.
Keesokan harinya kami bangun agak siang, karena hari minggu. Shanti bangun lebih dulu dariku. Dan dia membangunkan aku dengan paniknya.
Shanti: Shinta, bangun Shinta.. (sambil membangunkanku)
Aku     : Iya bawel, ada apa? (sambil menguap)
Shanti: Coba lihat ini (menunjukan selembar kertas padaku)





Aku kaget dan benar-benar tidak percaya. Tapi dari mana datangnya kertas ini?
Tapi jika Shanti yang menulisnya pasti tidak mungkin. Aku tau betul tulisan Shanti. Dan kertasnya juga berbeda. Aku tidak punya kertas seperti itu.
Beberapa menit aku terdiam memikirkan ini semua, karena masih banyak pertanyaan tentang surat itu.
Lalu aku ke dapur untuk menemui bi Sumi.
Aku      : Bi, aku mau cerita.. (semuanya aku ceritakan dengan rinci)
Bi Sumi: Non Shinta ini gimana toh, lha wong udah tau bunga itu ada dikuburan, kenapa
              masih aja diambil? Bukannya gak boleh ya mengambil sesuatu dari kuburan?
Aku      : Iya bi, aku kan Cuma pengen bunga nya aja. Terus gimana nih bi?
Bi Sumi: Ya non kembaliin aja bunganya, non kan bisa beli lagi bunga nya di toko.
              Lagipula bener kata non Shanti, “jangan ngambil sesuatu apa pun dari kuburan
              ntar roh nya ngikutin” buktinya aja non Shinta di ikutin kan?
Aku      : Iya bi.
Bi Sumi: Ya udah, sekarang non kembalikan bunganya. Sambil minta maaf juga ya..
(Aku hanya tersenyum sambil meninggalkan bi Sumi)
Aku dan Shinta bergegas kekuburan dan mengembalikan bunga itu ke tempatnya. Tak lupa aku juga meminta maaf.

Pesan: Jangan mengambil sesuatu disembarang tempat.
       Meskipun sesuatu itu terlihat bagus dan menarik.



JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

CERPEN tentang CINTA

THAT SOME BODY’S ME

     Aku mengharapkan bel istirahat berbunyi. Dan benar saja, 2 menit kemudian bel istirahat berbunyi. Setiap jam istirahat pertama aku selalu ke perpustakaan untuk membaca buku dan melihat dia.
Melihat orang yang menjadi raja dihatiku. Siapa lagi kalau bukan Ibrahim.
Anak laki-laki keturunan Turki itu yang menjadi salah satu alasan kenapa aku ke perpustakaan.
Ibrahim adalah kakak kelasku, dia kelas 3 IPA dan aku kelas 2 IPA. Sayang sekali aku tidak satu angkatan dengannya.
Aku mulai menyukainya ketika aku melihatnya membaca buku di balkon depan kelasnya. Kebetulan kelasku dan kelas Ibrahim bersebrangan, dan kelas kami pun sama-sama di atas dan berhadap-hadapan.
Dari situ aku selalu memperhatikannya, dan mulai mencari tau tentang Ibrahim.
Aku tidak tau apakah Ibrahim tau jika aku sedang memperhatikannya atau tidak.
Ibrahim juga siswa yang banyak menetak prestasi disekolah, baik dalam bidang akademik, maupun non akademik. Itu juga salah satu alasan mengapa aku menyukainya.
Tapi tidak ada satu orang pun yang tau bahwa aku menyukai Ibrahim, termasuk Putri sahabatku.
     Aku selalu memperhatikan Ibrahim meskipun aku tau bahwa Ibrahim tidak terlalu memperdulikan itu. Dan beberapa kali Putri memergoki aku sedang memperhatikan Ibrahim.
Putri: Hayo lagi apa? (sambil menepuk pundakku)
Aku  : Kamu ini ngaget-ngaettin aja Put. Gak lagi ngapa-ngapain ko..
Putri: Bener nih? Ayo masuk ke kelas, kita selesain tugas fisika yang tadi.
(aku dan Puteri langsung masuk ke kelas. Dan aku tidak melihat Ibrahim lagi)
     Aku selalu menyempatkan untuk mencari tau tentang Ibrahim, ternyata dia belum punya pacar. Betapa senangnya aku ketika mengetahui hal itu.
Dan semenjak aku menyukai Ibrahim, aku sering menulis puisi, cerita, ataupun kata-kata lainnya. Misalnya seperti minggu lalu, Ibrahim memenangkan lomba pidato Bahasa Inggris. Aku memberikannya ucapan pada selembar kertas, dan aku simpan di sela-sela buku yang dia baca di perpustakaan.
Bukan hanya sekali aku melakukan hal itu, tapi sudah sering. Tapi Ibrahim tidak tau siapa yang menulis semua itu untuknya. Aku sempat melihat dia bertanya-tanya tentang orang yang selalu mengiriminya puisi, kata-kata, ucapan-ucapan. Tapi tidak ada yang tau bahwa that some body’s me.
Hingga suatu saat aku tau bahwa Ibrahim berpacaran dengan Putri, sahabat sekaligus teman sebangku ku.
Aku tidak menyangka, karena yang aku tau Putri dan Ibrahim tidak saling kenal dan aku tidak pernah melihat mereka berbiara berdua sebelumnya.
Semenjak Ibrahim berpacaran dengan Putri, Ibrahim selalu ke kelasku setiap jam istirahat ke dua untuk menemui Putri.
Kerap kali mereka berdua mengajakku pergi bersama mereka, tapi tentu saja aku menolakknya karena hatiku akan terbakar dan mataku akan mengeluarkan air mata jika aku melihat mereka berdua. Aku cemburu, tapi ini semua buka salah Ibrahim, karena dia tidak tau bahwa aku menyukainya. Dan ini juga bukan salah Putri karena Putri juga tidak tau bahwa selama ini aku menyukai Ibrahim.
Tapi hubungan mereka tidak bertahan lama. Mereka hanya 4 bulan berpacaran.
Entah apa yang membuat mereka berpisah. Dan aku juga tidak mau tau apa penyebabnya.
     Banyak surat yang aku tulis untuk Ibrahim. Tapi aku tidak mau memberikannya pada Ibrahim. Hingga akhirnya tiba waktunya perpisahaan untuk kelas 3, dan aku memberanikan diri memberikan surat-surat itu pada Ibrahim. Tidak semua surat aku berikan. Hanya ada 7 surat yang aku berikan padanya, dan Ibrahim berjanji akan membacanya nanti.
Aku    : Kak, ini ada surat. (tanganku bergetar saat memberikan surat itu)
Ibrahim: Dari siapa? Dari kamu? (Ibrahim tersenyum sambil menatapku)
(Aku hanya mengangguk lalu lari ke kelas)
Aku memberikan surat-surat itu karena aku tau bahwa Ibrahim akan kembali ke Turki. Aku hanya ingin dia tau tentang perasaanku. Dan seseorang yang menulis sesuatu untuknya, that some body’s me.
Ini adalah surat terakhir yang aku tulis untuk Ibrahim, dan aku berharap Ibrahim akan membalas surat dariku.


















JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

Cerpen-Iam Here

I AM  HERE
     Hari ini aku dan keluargaku pindah rumah ke Bogor, tepatnya di daerah XX.
Aku dua bersaudara, dirumah aku tinggal berlima, aku, kak Mia, mama, papa, dan bi Inah. Rumah yang kami tempati saat ini cukup besar, dan bangunan rumahnya juga masih bangunan jaman dulu, bangunan jaman Belanda.
Kami membeli rumah ini dari lelang, jadi kami tidak tau siapa yang tinggal dirumah ini sebelum kami.
Ada satu hal yang membuat kak Mia curiga dengan rumah ini, yaitu rumah ini dijual dengan sangat murah, papaku membelinya dengan harga 200 juta. Tidak sebanding dengan luas tanah dan bangunannya, luas tanahnya 357m dan luas bangunannya 300m. Cukup besar bukan? Ditambah ada loteng di dekat dapur.
Tapi aku tidak peduli dengan semua itu, mungkin rumah ini dijual murah karena rumahnya sudah lama tidak laku.
Begitu masuk ke rumah ini, kak Mia sibuk memilih-milih kamar. Tapi aku tidak, karena bagiku aku mau tidur dikamar yang mana pun itu sama saja.
     Sebulan telah berlalu, sudah sebulan aku tinggal dirumah jaman Belanda ini.
Aku tidak merasakan hal-hal aneh apa pun, apa mungkin aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Saat aku pulang sekolah aku melihat kak Mia berada dikamarku. Dia terlihat seperti orang yang ketakutan, dan aku mencoba menanyakan apa yang terjadi padanya.
Aku      : Kak, kakak kenapa?
Kak Mia: Tadi aku liat hantu di deket loteng (dengan mimik wajah ketakutan)
Aku      : Masa sih kak? Halusinasi kali tuh. Masa hantu nongol disiang hari?
Kak Mia: Aku udah sering denger suara-suara aneh setiap malem, semenjak kita
              tinggal dirumah ini, banyak hal-hal aneh yang aku alamin.
              Tapi baru kali ini aku ngelihat hantu.
Aku     : Ok, kalo emang yang kakak ceritain itu bener. Aku pingin ada buktinya
               (Lalu aku berteriak menantang mereka)
               “Hey siapa pun hantu dirumah ini, cepetan keluar. Tunjukin diri kalian
               di depanku”.
Kak Mia: Hust, kamu ini jangan sembarangan ngomong. Kamu sama aja kaya nantang.
Aku      : Biarin (sambil berjalan meninggalkan kak Mia)
Aku sama sekali tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu, itu bukan pertama kalinya aku menantang makhluk-makhluk astral dirumah ini.
Tapi tidak ada satu pun yang muncul dihadapanku.
     Suatu hari aku berjalan-jalan didalam rumah, karena selama aku tinggal dirumah ini, aku belum tau semua tentang ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah ini.
Dan aku masuk ke salah satu ruangan, dan ternyata itu sebuah kamar.
Kamar yang sangat indah, seperti kamar seorang Puteri. Tempat tidurnya pun berbentuk kereta kencana, sungguh menakjubkan. Dalam hatiku bergumam
 “Kamar siapa ini?”. Rumah ini sudah lama tidak ditempati, ruangan yang lain tidak sebagus dan sebersih ini. Kamar ini sangat bersih, seperti ada yang menempati.
Tapi siapa yang tinggal di kamar ini? Apa ada orang yang tinggal dirumah ini sendiri? Menurutku itu tidak mungkin. Dan aku pikir orang-orang yang ada dirumah belum tau tentang kamar ini.
Aku segera kembali ke kamar untuk menemui kak Mia, u tuk memberi tau tentang kamar itu.
Dan ketika aku kembali ke kamarku, tidak ada siapa pun dikamarku. Mungkin kak
Mia sudah kembali ke kamarnya. Lalu ditempat tidurku, aku melihat sebuah kertas yang bertuliskan “ I AM HERE, Maria”. Tidak mungkin kak Mia yang menulisnya, karena aku tau ini bukan tulisan kak Mia.
Dari situ aku percaya bahwa mereka ada disekitarku.




Pesan:
      Jangan pernah menantang/ mengusir mereka.
      Karena sejatinya, mereka juga hidup berdampingan
      dengan kita.



JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI



Wednesday, December 24, 2014

Cerpen

CERITAKU

                Ini kisah tentang aku dan sahabatku. Kami berdua begitu dekat seperti adik dan kakak. Aku mengenalnya saat aku sadang menghabiskan liburan sekolahku di rumah kakek dan nenek, tepatnya di daerah Bandung.
Dia adalah tetangga nenek dan kakek. Rumahnya pun berhadap-hadapan dengan rumah kakek dan nenekku.
Oh iya, namaku Rohit Sharma. Kalian  bisa mamanggilku Rohit. Dan sahabatku bernama Rani Singh, aku biasa memanggilnya Rani, ya.. Rani yang cantik.
Menurutku dia sosok yang mengagumkan. Dia cantik, baik, dan pintar. Apa yang kurang dari nya? Menurutku tidak ada. Semuanya ada pada dirinya.
Dan mungkin juga kebahagiaanku pun ada pada dirinya saat itu.
Kami berdua berkenalan seperti anak kecil, dan perkenalan itu masih ku ingat sampai saat ini.
Aku : Hai, namaku Rohit. Nama kamu siapa?
Rani: Aku Rani. (Rani tersipu malu saat memperkenalkan dirinya padaku)
Aku : Kamu kelas berapa Rani?
Rani: Aku kelas 6, kalo kamu Rohit?
Aku : Sama sepertimu. Kamu tidak pergi berlibur?
Rani: Berlibur kemana? Semua keluargaku ada disini.
Aku : Semua?
Rani: Iya, semua. Paman, bibi, kakek, nenek-nenekku, dan sodara-sodaraku.
Aku : Wah ramai sekali ya kalau begitu?
Rani: Iya (sambil tersenyum padaku)
Aku : Rani, mau berteman denganku? (aku mengulurkan tanganku pada Rani)
Rani: Tentu saja, kenapa tidak
(kami berdua tertawa bersama)
          Semakin hari, semakin dekat saja antara aku dan Rani. Kami selalu menghabiskan waktu berdua. Rani selalu mengajakku ke tempat-tempat yang belum aku ketahui di daerah tempat tinggal kakek dan nenekku.
Rani mengajakku ke sungai, sawah, dan masih banyak tempat-tempat menakjubkan yang dia tunjukan padaku. Hingga tak terasa tiba waktunya aku, ayah, dan ibu pulang.
Aku pun menyempatkan berpamitan pada Rani
Aku : Rani, aku pulang dulu ya. Semoga pada liburan yang akan datang kita bisa
          bertemu lagi.
Rani: Aku harap kamu tidak melupakan aku, dan kamu akan kesini lagi.
Aku : Pasti aku kesini lagi. Aku janji Rani. Aku akan kesini lagi untuk menemui
          mu.
Selama dirumah, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku sering melamunkan Rani. Dan hanya Rani saja yang aku pikirkan.
Setelah beberapa bulan kemudian, libur kenaikan kelas pun tiba. Aku mengunjungi rumah kakek dan nenek di Bandung, dan aku berharap bisa bertemu Rani lagi.
Dan setiap libur sekolah, aku bisa bertemu dengan Rani, aku bisa bermain dengan Rani, dan aku pun bisa menghabiskan waktuku dengannya,
Tak ada waktu liburanku yang terbuang percuma. Semuanya aku habiskan bersama Sahabatku, Rani.
     Ketika kami sudah beranjak remaja, tepatnya ketika kami sudah kelas 3 SMA, dan saat itu usia kami baru 17 Tahun. Aku mulai menyukai Rani, dan sepertinya Rani juga menyukaiku, aku sadar akan hubungan diantara kami berdua. Ini lebih dari sekedar sahabat, ini adalah cinta.
Saat itu juga terpikirkan olehku untuk mengungkapkan perasaanku ini pada Rani. Aku menulis beberapa puisi untuk Rani. Aku berharap Rani suka. Dan ketika liburan semester ganjil kelas 3, seperti biasa, kami semua ke Bandung. Setelah sampai di Bandung, aku segera menghampiri rumah Rani. Tapi tidak ada Rani di sana.
Lalu ibu nya pun menghampiriku dengan wajah yang sedih
Ibu Rani: Nak Rohit, sekarang nak Rohit tidak bisa bermain lagi denga
          Rani.
          Bahkan untuk bertemu saja nak Rohit sudah tidak bisa
Aku     : Memang nya kenapa tante? Rani kenapa? Rani lagi sakit ya?
Ibu Rani: Bukan. Tapi Rani sudah meninggal. Rani meninggal karena bus
          yang ditumpangi nya saat Study Tour masuk ke jurang.
(Aku langsung pergi dari rumah Rani, aku lari sekenang mungkin. Aku lari ke danau tempat aku dan Rani menghabiskan waktu)
Bagaimana bisa terjadi secepat ini Tuhan. Kenapa kau mengambilnya dariku secepat ini? Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya?
Aku segera mengunjungi makam Rani. Setelah itu aku memutuska untuk pulang ke rumah kakek dan nenek. Disana aku hanya diam di kamar, aku tidak mau makan sama sekali. Aku tidak ingin apa pun saat ini. Aku hanya ingin sendiri. Ayah dan ibu yang biasa nya khawatir jika aku diam terus dikamar, sekarang mereka membiarkan aku mengurung diri di kamar.
Mungkin mereka mengerti apa yang aku rasakan saat ini, kehilangan sahabat sekaligus cinta.
Hingga akhirnya, kami sekeluarga memutuskan untuk pulang.
Tidak ada perubahan apa pun dari sikapku, aku hanya mengurung diri dikamar.
Aku hanya memikirkan Rani, aku masih tidak menyangka bahwa dia akan meninggalkan aku secepat ini.

     Sampai sekarang aku masih suka berkunjung ke makam Rani, aku selau mendoakan nya.
Sampai sekarang tidak ada gadis lain yang aku cintai selain Rani, meskipun dia sudah tidak ada.
Sosok Rani pun tidak akan pernah terganti oleh siapa pun, karena tidak ada lagi orang seperti Rani.



















JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI


Sunday, December 21, 2014

Cerpen-Cinta

CINTA
Aku adalah seorang gadis yang sering menghabiskan waktuku di didepan motitor, selain itu juga aku sering mempergunakan waktuku untuk membaca buku-buku kesukaanku. Itu semua untuk mengisi waktu luangku jika sedang tidak ada tugas kuliah.
Aku menuntut ilmu disalah satu Perguruan tinggi di Jogjakarta. Orang tuaku tidak tinggal bersamaku, karena mereka bekerja di Jakarta, dan mereka selalu pulang 2 bulan sekali untuk melihat keadaanku disini, aku tinggal dirumah sendiri, hanya sendiri. Karena aku adalah anak tunggal.
Aku mengambil jurusan Psikolog, dan sekarang aku sudah semester 5.
Aku mempunyai 2 orang sahabat yang sangat baik dan pintar namanya Sonia dan Karina. Kami bertiga cukup akrab, bahkan mereka sering menginap dirumah untuk menemaniku.
     Jam dinding dikamarku menunjukan pukul 07:30 pagi, waktunya aku berangkat ke kampus, kampusku tidak terlalu jauh dari rumah.
Aku selalu jalan kaki ke kampus, karena jaraknya hanya 150 meter dari rumahku.
Di kampus aku bertemu dengan kedua sahabatku itu, tapi kelihatannya mereka berdua sedang sibuk dengan pacar mereka masing-masing. Tapi aku tetap menghampiri mereka dan menyapa mereka.
Aku    : Selamat pagi tuan-tuan dan nyonya-nyonya (aku menyindir mereka)
Sonia : Selamat pagi juga tuan putri (membalsa sindiranku)
Aku    : Sepulang dari kampus, aku ingin mengajak kalian untuk pergi
             ke toko buku. Kalian semua harus ikut ya? (ajakku)
Karina: Maaf, bukannya kami tidak mau ikut denganmu, tapi kami berempat sudah
            punya rencana untuk menonton film di bioskop. Kamu ikut ya, nanti
            sepulang dari menonton kita ke toko buku. Bagaimana?
Aku    : Maaf, aku tidak bisa ikut. Ya sudah, kalian hati-hati ya berangkat
            nya nanti.

Aku tidak bisa ikut dengan mereka, karena aku tidak suka menoton di bioskop. Aku tidak terlalu menyukai suasana di bioskop. Setelah pulang kuliah, aku langsung menghampiri toko buku langgananku.
Ada beberapa buku yang harus aku beli salah satunya buku pelajaran.
Aku sangat suka sekali membaca dan menulis. Aku sering sekali membuat puisi dan cerita-cerita pendek. Bahkan saat ini, aku sedang berusaha menyelesaikan buku ku. Aku membuat beberapa cerita-cerita pendek dan akan disatukan dalam satu buku. Semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan targetku.
Ketika aku sedang membaca buku yang baru saja aku beli, tiba-tiba Karina meneleponku.
Karina: Hay, apa kamu sudah ke toko buku?
Aku    : Iya, kenapa memangnya?
Karina: Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan saja, kalau kamu benar ke
             toko buku dan sedang tidak bersama seseorang hehe (sindirnya)
Aku    : Ah kamu ini, aku sudah ke toko buku. Dan aku sekarang sudah
            dirumah. Aku tidak bersama siapa pun Karina. Memang aku dengan siapa?
Karina: ya mungkin dengan pacarmu (ejeknya padaku)
Aku    : Aku kan tidak punya pacar, ada-ada saja kamu ini.
Katina: Jadi kapan kamu punya pacar? Dari pertama kita masuk kuliah, aku tidak
            pernah melihatmu dengan seorang pria, ya walaupun itu hanya temanmu.
Aku    : Karina, maaf ada telepon masuk. Sudah dulu ya
(aku langsung mengakhiri pembicaraan itu, karena aku malas menjawab pertanyaan dari Karina).
     Akhirnya saat-saat yang ditunggu telah tiba, aku mendapat telepon dari penerbit yang mengatakan bahwa buku ku sudah jadi dan akan segera dipasarkan.
Tapi sebelumnya aku harus menghadiri acara peluncuran buku ku besok.
aku sangat senang sekali. Aku memberitau ayah dan ibu akan hal ini, dan betapa tidak menyangkanya aku jika mereka besok akan hadir dalam acara itu. Dan tak lupa aku memberitau kedua sahabatku, dan tentu saja mereka akan datang.
Keesokan harinya aku berangkat ketempat peluncuran buku ku. Setelah aku sampai disana, ternyata Karina, Sonia, dan pacar-pacar mereka sudah berada disana.
Aku sangat senang sekali, karena impianku untuk mempublikasikan karyaku telah tercapai. Tak lama, ayah dan ibu pun datang. Mereka langsung memelukku dengan rasa bangga.
Ayah: Ayah, sangat bangga sama kamu nak. Ternyata impianmu tercapai.
Ibu : iya sayang, kamu masih sempat menyelesaikan buku mu walaupun kamu sedang
         sibuk dengan tugas-tugas kuliahmu saat ini. Ibu bangga sekali nak.
Aku : Ayah, ibu aku juga bangga mempunyai orang tua seperti kalian. Karena
         kalian selalu memberiku semangat dan mendukung apa yang menjadi impianku.

Peluncuran buku ku berjalan tanpa hambatan. Dan takku sangka, ayah dan ibu memberi aku hadiah sebuah Laptop baru. Tapi sayangnya, tak lama setelah memberikan hadiah ayah dan ibu langsung kembali ke Jakarta. Ya, mereka berdua sedang sibuk dengan bisnisnya, mereka adalah pengusaha majalah ternama di Indonesia.
     Sepulang dari acara itu, malam harinya aku mengajak kedua sahabatku dan pacar-pacar mereka untuk makan malam di tempat makan langganan kami. Aku hanya bisa merayakan keberhasilanku ini bersama mereka berempat, tapi aku merasa senang.
Saat menunggu pelayan mengantarkan makanan pesanan kami, aku melihat Sonia dan Karina sangat bahagia sekali saat berada dengan pacar mereka. Aku hanya bisa tersenyum melihat kebersamaan mereka.
Mereka begitu serasi, mereka pasangan yang kompak. Dan aku sadar sekarang, bahwa apa yang dikatakan Karina di telepon waktu itu benar. Aku tidak pernah mempunya teman laki-laki, bahkan pacar. Pelayan pun datang mengantarkan makan pesanan kami, dan kami semua pun makan bersama. Setelah selesai makan-makan, mereka berempat emngantarkan aku pulang, dan mereka pergi lagi, entah mereka pulang atau masih ada acara lagi. Aku tidak tau.
Sesampainya dirumah aku hanya terdiam sambil melihat bintang-bindang dilangit, entah kenapa aku merasa tenang ketika aku menatap ribuan bintang-bintang kecil itu.

Aku hanya bisa melamun memikirkan semuanya, aku hanya bisa menuangkan isi hatiku kepada selembar kertas yang putih dan bersih.


Aku tidak mengrti akan cinta, bahkan aku
tidak pernah terpikirkan tentang cinta.
Mungkin ini karena kesibukkanku, sehingga
aku melupakan hal yang penting ini.
Tidak pernah terpikirkan olehku tentang cinta, tidak pernah terpikirkan olehku tentang indahnya jatuh cinta, tidak pernah terpikirkan olehku untuk membuat kisah terindah tentang cinta dalam hidupku, dan tidak pernah terpikir olehku tentang orang yang aku sukai.
Bagaimana aku bisa jatuh cinta? Orang yang aku cintai saja tidak ada, aku tidak menyukai siapa pun saat ini. Mungkin sekarang aku harus mulai belajar membuka hatiku untuk orang lain, mulai bersosialisasi dengan siapa pun yang ingin berteman denganku, ya.. siapa pun.
Karena awal terjadinya cinta, dimulai dari pertemanan. Dan aku yakin, aku bisa mendapatkan cintaku, aku bisa berbagi hati dengan orang yang aku cintai, dan aku bisa menulis kisah terindah dalam hidupku.
Aku sangat tidak sabar bertemu dengannya (cinta), meskipun sekarang aku tidak tau siapa dia, bagaimana orangnya, dan sedang apa dia sekarang, tapi aku yakin dia adalah yang terbaik yang dipilihkan oleh Tuhan untukku.

JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

Sunday, November 16, 2014

DATANG BULAN

Namaku Juwita. Ini adalah pengalamanku sendiri, dua minggu yang lalu aku mengalami kejadian aneh disekolah, tepatnya di kelas.
Begini ceritanya, waktu itu hari Rabu 05 November 2014 jam 06:15 aku suadah sampai di sekolah, karena hari itu aku piket jadi aku langsung mebersihkan kelas, hanya butuh waktu 10 menit untuk membersihkan kelasku. Setelah selesai, aku duduk di bangku ku untuk istirahat sejenak. Tak lama aku duduk, aku mendengar suara perempuan tertawa tepat di belakangku (bangku ku paling belakang), segera aku menoleh ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa dan suara itu masih tetap ada.
Suara itu sangat jelas sekali, sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kelas. Tapi sebelum aku keluar dari kelas, aku melihat seorang wanita dengan baju yang lusuh sedang tertawa. Lalu aku bertanya padanya
“Siapa kamu?” tapi ia tetap tertawa. Aku melihatnya dengan sangat jelas. Dan tak lama akhirnya dia bicara juga “Aku suka tempat ini” jawabnya tapi tidak menyebutkan nama nya. “Sejak kapan kamu disini?” tanyaku “sejak 2 hari yang lalu” jawabnya sambil melotot ke arahku.  “Kenapa kamu tertawa terus?” tanyaku lagi..
Dia lalu berdiri dan menunjuk salah satu bangku dikelasku
“aku suka disini, aku suka tempat ini karna aku bisa menghisap darah, dia yang duduk di bangku itu (sambil menunjuk bangku yg tadi) selalu mengeluarkan darah yang baunya aku suka. Aku suka dengan orang yang jorok ketika datang bulan hihihihihi” katanya sambil tertawa seram.
     Tak lama beberapa temanku pun datang dan masuk ke kelas. Dan aku tidak melihat perempuan itu lagi. Saat jam pelajaran ke-3 dimulai, aku mencium bau yang tidak enak, tepatnya bau darah orang sedang datang bulan. Dan bau itu disebabkan oleh temanku..
“Astaga, ternyata dia yang jorok haid-nya? Pantas saja makhluk tadi senang berada di sini” gumamku. Dan aku mencoba bicara pada temanku yang sedang haid tadi.
            Aku: Sa, kamu lg dapet ya?
            Temanku: Iya Juw, kenapa emg?
            Aku: Aduhh, kamu kalo lagi dpet tuh jangan jorok donk.
            Temanku: Jorok gimana Juw? Perasaan biasa aja ko dari kemarin. Paling cma tembus..
            Aku: Nah iya itu sa, gara-gara tembus bau darah nya jadi kemana-mana. Kan jadi bikin                                                          kami semua gak nyaman!
            Temenku: Iya deh, aku minta maaf ya. Aku gak akan jorok lagi ko. Oh iya Juw, aku mau cerita sama kamu. Kemarin kan aku piket pas pulangnya, aku tuh kaya ngedenger suara perempuan ketawa loh, terus kaya ada bau aneh gitu, padahal lantainya udah di pel. Kan aneh, terus aneh nya lagi, pas aku pulang aku ngerasa ada yang ngikutin aku. Dan malemnya, aku ngedenger suara itu lagi.
            Aku: Suara yang mana?
            Temanku: ya suara perempuan lagi ketawa, yang aku denger waktu di kelas Juw..
            Aku: Nah itu dia, makhluk itu ngikutin kamu karena dia suka sama bau darahmu.  Makannya sa, lain kali kalu kalo haid jangan jorok ya,..
            Teman-teman di kelas: iya bener tuh..
(Aku gak nyangka, teman-teman sekelas memperhatikan kami berdua)
             Temanku: Iya aku janji ko...
Nah mulai dari situ, tidak ada lagi yang jorok jika sedang datang bulan.
Dan aku juga sudah tidak melihat makhluk itu lagi, ya.. mungkin dia sudah pergi,..


Pesanku:
Untuk teman-temanku yang perempuan, jika sedang datang bulan di usahakan harus bersih. Jangan sampai ceroboh ya, soalnya kalau kalian ceroboh makhluk seperti tadi akan mengikuti kalian. Dan tentu nya kalian tidak ingin di ganggu atau bertemu dengan makhluk astral tadi kan?
Kalau begitu, mulai dari sekarang jaga lah kebersihan, baik sedang datang bulan ataupun tidak sedang datang bulan.
Terimakasih .....
J










JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI

Cerpen Horor



LARANGAN MENYANYI DI KAMAR MANDI
     Aku Desi, salah satu murid dari sekolah ternama di Purwakarta.
Cerita ini berawal dari hobbyku, yaitu bernyanyi. Aku sangat suka sekali bernyanyi, dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun.
Ketika di kelas aku bersama temanku memutuskan untuk ke toilet, tapi sebelumnya kami minta ijin dulu kepada guru yang sedang mengajar di kelas.
Setelah sampai di depan toilet, aku masuk terlebih dulu karna toiletnya penuh dan hanya ada 1 yang kosong. Aku ke toilet hanya untuk merapihkan baju dan kerudungku saja, dengan santainya aku bernyanyi. Saat itu lagu yang aku nyanyikan adalah lagu Bubuy Bulan, pasti kalian tau lagu itu.
Ya,.. Lagu yang berasal dari Jawa Barat ini  sedang aku gemari, tapi disela-sela aku bernyanyi aku mendengar suara orang yang menirukan cara bernyanyiku, yang pasti dengan suara yang berbeda. Aku coba untuk diam sejenak, dan suara itu pun menghilang.
“Ahh, mungkin hanya orang iseng yang berada di toilet sebelah” gumamku. Dan aku bernyanyi lagi, dan suara itu juga ada lagi, suara itu sangat jelas karena di dinding atas toiletku ada fentilasi yang tembus ke kamar mandi sebelah kiriku. Tapi setelah aku amati, suara itu bukan suara anak remaja, melainkan wanita paruh baya.
Aku kaget dan aku langsung keluar dari toilet itu.
Aku tidak menceritakan hal ini pada temanku Nadin (yang mengantarku ke toilet)
     Saat bel istirahat berbunyi, aku dan Nadin duduk di depan kelas. Aku menceritakan semua pada Nadin.
Nadin: Ya ampun, serius kamu Des? Tapi tadi pas kamu masuk ke toilet, orang yang ada di toilet sebelah kiri itu udah keluar. Lagipula yang di toilet sebelah kiri itu laki-laki anak kelas 2, bukan perempuan. Ah, kamu salah denger kali..
Aku: Aku serius Nad, tadi aku denger jelas banget. Tapi suaranya bukan suara anak remaja.    Tapi suara wanita paruh baya baya.
Nadin: Wah, kalo itu sih aku gak tau, kan aku cuma nunggu kamu di luar dan aku juga gak denger suara itu.
           Setelah pulang sekolah aku menceritakan kejadian itu kepada ibu ku, lalu ibu menasehatiku.
Ibu: Desi, lain kali kalau mau bernaynyi itu harus tau waktu dan tempat nak. Jangan nyanyi di sembarangan tempat, apalagi di toilet, pamali. Di setiap tempat itu ada penunggunya, dan mereka bisa merasa terganggu oleh suara kita mau pun perbuatan kita.
Aku: Iya bu, sebenarnya sudah lebih dari 1x aku mengalami kejadian seperti ini.
Ibu: Nah, itu kamu udah pernah di ganggu beberapa kali tapi kamu gak kapok juga? Seharusnya ini  bisa jadi pelajaran buat kamu nak. Larangan bernyanyi di toilet/kamar mandi itu bukan hanya mitos, tapi itu memang benar ada nya. Bukti nya aja, kamu udah ngalamin.
Aku: Iya bu, Desi janji gak akan nyanyi-nyanyi di sembarang tempat apa lagi di kamar mandi

“Ibu hanya tersenyum kecil”
Dari situ, jika aku sedang di toilet/ di kamar mandi, aku tidak pernah bernyanyi lagi. Dan suara-suara itu pun juga sudah tidak pernah aku dengar lagi.
Dan aku berharap kejadian ini tidak terjadi lagi pada ku.




Pesan untuk teman-temanku:
          Untuk kalian yang hobby nyanyi, sebaiknya lihat dulu kondisinya. Baik itu temapat, waktu dan suasana sekitar kalian.
Dan untuk kalian yang suka nyanyi di kamar mandi, mendingan jangan di ulangi deh..
Karena menyanyi di kamar mandi itu gak baik, pamali (kata orang Sunda mah).
Ini bukan hanya mitos dari orang jaman dulu, tapi ini pernah terjadi kepada beberapa orang. Yahh, mungkin salah satu dari kalian juga pernah mengalami nya..
Maka dari itu, tinggalkan kebiasaan buruk kalian yang suka nyanyi di kamar mandi..
Ok       
J
Terimakasih.........













JUWITA DESI DWI RAHAYU HERRY SAPUTRI